DelapanPagi

Bukan Omon-omon, Gas Jumbo 5 Tcf Ditemukan di Kaltim, Akankah Indonesia Benar-Benar Bebas dari Impor Energi?

×

Bukan Omon-omon, Gas Jumbo 5 Tcf Ditemukan di Kaltim, Akankah Indonesia Benar-Benar Bebas dari Impor Energi?

Sebarkan artikel ini
Penemuan gas jumbo untuk kesejahteraan bangsa (AI Image)

Oleh : Bakarudin AK

Channel8.co.id, KABAR GEMBIRA baru saja dilansir Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia beberapa jam yang lalu. Telah ditemukan ladang gas giant (raksasa) di Kalimantan Timur. Disebutkan Eni, perusahaan migas asal Italia, menemukan cadangan gas raksasa di sumur eksplorasi Geliga-1, Blok Ganal, lepas pantai Cekungan Kutai, Kalimantan Timur. Sumur yang dibor hingga kedalaman 5.100 meter ini diperkirakan menyimpan sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) gas dan 300 juta barel kondensat. Penemuan ini dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Penemuan ini disebutkan merupakan tonggak sejarah dalam proses eksplorasi migas nasional. Ini menjadi penting di tengah dinamika geopolitik global yang tidak menentu, seperti ketegangan di Timur Tengah saat ini. Dikatakan, keberhasilan tersebut bagian dari sejarah proses eksplorasi di Indonesia. Konsumsi kita mencapai 1,6 juta barel per hari (bpd). Sementara produksi lifting kita baru di angka 605.000 bpd tahun 2025. Penemuan ini menjadi strategi agar kita tidak lagi bergantung pada impor gas dan bisa menekan impor crude (minyak mentah),” tutur Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada jumpa pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026).

Kabar gembira tersebut menjadi penegasan paparan Presiden Prabowo Subianto berkaitan dengan krisis energi yang tengah melanda dunia. Setelah mengamankan ketersediaan BBM untuk tahun 2026 sebagai titik kritis, maka pemerintah memfokuskan ketersediaan untuk tahun 2027. Barulah pada tahun 2028 ketersediaan BBM dan energi lain untuk memenuhi kebutuhan nasional telah aman. Seperti diungkapkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Indonesia akan mampu memenuhi kebutuhan solar secara mandiri. Dengan demikian, Indonesia tidak perlu lagi melakukan impor BBM jenis solar dan gas untuk kebutuhan konsumsi masyarakat dan industri.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan keberhasilan Eni bukanlah omon-omon (kosa kata lama yang pernah dikatakan Prabowo Subianto pada saat debat Calon Presiden 2024 lalu). Omon-omon dapat diterjemahkan omong kosong, ngibul, tidak nyata, atau kabar bohong. Amanat UUD 1945 menyatakan kekayaan alam, sumber daya alam adalah untuk kemakmuran rakyat. Amanat tersebut sejatinya harus dipegang teguh oleh siapa pun pemangku kekuasaan. Presiden Prabowo Subianto memang memikul beban berat atas seluruh warisan “Sang Pendahulu”, tidak saja beban finansial, juga banyaknya kebijakan tidak berorientasi kepada kepentingan rakyat, melainkan “meninabobokkan” kepentingan asing dan para pelaku ekonomi raksasa. Untuk menyelesaikan warisan “Sang Pendahulu”, Presiden Prabowo Subianto sampai membentuk Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH). Terbukti ditemukan banyak penyimpangan dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) di berbagai wilayah Indonesia.

Memang keberhasilan Eni dalam eksplorasi gas di Kalimantan Timur tidaklah sepenuhnya diperuntukkan untuk kebutuhan dalam negeri. Eksplorasi dan eksploitasi SDA dalam bentuk apa pun, yang merupakan kerjasama dengan perusahaan asing, memiliki landasan perjanjian yang harus dipatuhi pemerintah Indonesia. Perjanjian yang sudah dilakukan tidak dapat secara semena-mena ditinjau kembali apalagi dibatalkan. Jika hal itu terjadi akan menimbulkan sengketa bisnis, bahkan menghadapi “perlawanan hukum” melalui peradilan internasional. Selain itu, dapat pula menimbulkan ketidakpastian hukum bagi para investor untuk berinventasi di Indonesia. Sayang Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tidak memberikan uraian, bagaimana perjanjian dengan Eni berkaitan dengan keberhasilan penemuan gas dan juga minyak di Kalimantan Timur tersebut.

SDA Indonesia memang tersebar di banyak wilayah Indonesia. Menjadi realita Indonesia memiliki keterbatasan kemampuan untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi berbagai kekayaan SDA yang terkandung di perut bumi Indonesia. Di tengah semakin menipisnya ketersediaan energi dunia dan terjadinya konflik-konflik di berbagai wilayah, mengharuskan Indonesia harus ekstra waspada, jangan sampai agresivitas perusahaan multi internasional dalam melakukan eksplorasi dan eksploitasi SDA secara jangka panjang merugikan Indonesia. Kita boleh gembira dan bangga karena menjadi idola investasi asing, namun mata hati dan pikiran harus tetap jernih, sebab sudah menjadi naluri para investor, mengambil keuntungan sebesar-besarnya untuk kepentingan korporasi sampai kepentingan masing-masing negara asalnya.

Pengelolaan SDA tidak dapat hanya menggunakan “kaca mata kuda”, berorientasi untuk kepentingan jangka pendek. Bagaimana pun perjalanan negara dan bangsa Indonesia masih panjang. Kita harus belajar dari sejarah kedatangan bangsa asing menjajah Indonesia. Berbagai cara, melakukan adu domba, memecah-belah, dan saat ini menggunakan “proxi-proxi” untuk melemahkan daya tahan nasional. Indonesia tetap membutuhkan komitmen dan konsistensi dalam menjaga keutuhan negara dan bangsa, jika menginginkan kejayaan dan disegani dalam pergaulan di dunia Internasional. Sehingga keberhasilan penemuan ladang gas baru super jumbo di wilayah Kalimantan Timur, tidak mengendurkan kewaspadaan terhadap “agresivitas asing” menguasai sumber-sumber energi di Indonesia. (BAKARUDIN AK)

Catatan Penulis :

Bakarudin AK 

Penulis dan Pengamat di bidang sosial, biografi, ekonomi desa, dan opini terkait isu energi

============

Channel8.co.id adalah platform digital media on line.  Konten ini menjadi tanggung jawab penulis/bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Channel8.co.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *