Minggu pagi, 28 April 1996, langit Jakarta seakan menyimpan duka yang begitu dalam.
Di saat umat Islam di seluruh Indonesia bersiap menyambut Hari Raya Idul Adha 1416 Hijriah, kabar yang datang dari ibu kota justru menyelimuti negeri dengan kesedihan. Tepat pukul 05.10 WIB, Hj. R.Ay. Fatimah Siti Hartinah Soeharto—yang lebih akrab disapa Ibu Tien Soeharto—menghembuskan napas terakhir di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.
Kepergian Ibu Negara ke-2 Republik Indonesia itu bukan hanya menjadi kehilangan besar bagi keluarga Cendana, tetapi juga meninggalkan jejak duka yang terasa hingga ke pelosok negeri. Ia wafat pada usia 72 tahun akibat serangan jantung yang datang mendadak beberapa saat sebelumnya.
Pagi itu, menurut kisah keluarga yang kemudian dikenang bertahun-tahun kemudian, Ibu Tien sempat mengeluhkan sesak napas. Presiden Soeharto yang berada di sampingnya berusaha memberikan pertolongan secepat mungkin. Ambulans segera disiapkan. Namun takdir berkata lain.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, kesadaran Ibu Tien perlahan memudar.
Bangsa ini pun kehilangan seorang sosok yang selama puluhan tahun dikenal sebagai figur ibu, pendamping kepala negara, sekaligus perempuan yang banyak memberi warna dalam pembangunan Indonesia.
Ada kesedihan yang tidak hanya terasa di dalam Istana, tetapi juga di ruang-ruang keluarga masyarakat Indonesia kala itu.
Baca Juga : Lebaran Keluarga Cendana: Sederhana, Hangat, dan Silaturahmi Penuh Canda
Banyak yang masih mengingat bagaimana berita duka tersebut disampaikan bertepatan dengan suasana takbir Idul Adha. Hari raya yang biasanya dipenuhi kebahagiaan, seketika berubah menjadi hari berkabung nasional.
Di berbagai rumah, orang-orang menghentikan aktivitas paginya, menatap layar televisi, dan mendengar kabar itu dengan perasaan tak percaya.
Bagi generasi yang hidup pada masa itu, kepergian Ibu Tien bukan sekadar berita politik atau kenegaraan. Ia adalah kehilangan figur yang selama bertahun-tahun hadir dalam ingatan kolektif bangsa.
Sosoknya begitu lekat dengan sebutan “Ibu Pembangunan.”
Julukan itu bukan tanpa alasan.
Di balik perannya sebagai ibu negara, Ibu Tien dikenal memiliki perhatian besar terhadap nilai keluarga, budaya, pendidikan, serta pembangunan fasilitas publik. Salah satu warisan yang paling membekas hingga kini adalah Taman Mini Indonesia Indah, sebuah kawasan yang menjadi simbol keberagaman budaya Nusantara.
Tak hanya itu, jejak gagasannya juga terlihat pada berbagai fasilitas sosial yang masih berdiri dan terus dimanfaatkan masyarakat hingga hari ini, seperti Taman Buah Mekarsari, Perpustakaan Nasional, hingga RSAB Harapan Kita.
Warisan itu membuat namanya tetap hidup, bahkan puluhan tahun setelah wafat.
Sehari setelah berpulang, pada 29 April 1996, jenazah Ibu Tien dimakamkan di kompleks keluarga Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah.
Di kaki Gunung Lawu, di tempat yang tenang dan teduh itu, ribuan pelayat mengiringi kepergiannya. Upacara pemakaman dilakukan dengan penghormatan militer penuh, menandai betapa besar posisi dan perannya dalam sejarah bangsa.
Namun lebih dari seremoni kenegaraan, yang paling tinggal dalam memori publik adalah sisi manusianya.
Ibu Tien dikenang sebagai sosok yang lembut, dekat dengan keluarga, dan sangat menjaga nilai rumah tangga. Banyak yang mengenangnya sebagai perempuan yang kuat memegang prinsip tentang keluarga yang utuh dan harmonis.
Tahun demi tahun berlalu, berbagai rumor sempat beredar tentang wafatnya.
Namun keluarga, khususnya Tutut Soeharto, telah berkali-kali menegaskan bahwa sang ibu meninggal akibat serangan jantung, membantah segala desas-desus yang pernah beredar.
Kini, setelah puluhan tahun, nama Ibu Tien Soeharto tetap menjadi bagian dari ingatan sejarah Indonesia.
Bagi sebagian orang, ia adalah simbol era pembangunan.
Bagi yang lain, ia adalah sosok ibu negara yang teduh.
Namun bagi bangsa ini, ia adalah bagian dari kenangan masa lalu yang tak mudah dilupakan—seorang perempuan yang kepergiannya pada pagi Idul Adha meninggalkan duka, sekaligus warisan yang terus hidup dalam denyut Indonesia.
Yang tersisa adalah ingatan
Tiga puluh tahun hampir berlalu. Banyak hal telah berubah. Televisi hitam putih telah lama berganti layar digital. Anak-anak yang dahulu diajak orang tuanya ke TMII kini telah menjadi orang tua. Namun kenangan tentang pagi Idul Adha 1996 itu masih hidup. Di benak mereka yang mengalaminya, kabar wafatnya Ibu Tien bukan sekadar berita.
Ia adalah penanda zaman. Sebuah momen ketika bangsa merasa bahwa sesuatu yang besar sedang berakhir. Karena sesungguhnya, sejarah tidak hanya hidup dalam buku. Ia hidup dalam ingatan. Dan di pagi takbir itu, yang pergi bukan hanya seorang ibu negara. Yang perlahan ikut pergi adalah sepotong masa Indonesia yang kini tinggal menjadi nostalgia. (Koni Bardianto)





