Oleh : Bakarudin Ak
Channel8.co.id – Yudi Latief, Ph.D, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) tahun 2018 pada paparannya dalam acara 105th Jenderal Besar H.M. Soeharto di Universitas Trilogi, 24 Juni 2026 menyampaikan, Presiden Soeharto melaksanakan program secara sederhana. Melihat apa yang harus diprioritaskan dan dibutuhkan masyarakat. Sebut saja pelaksanaan pembangunan SD Inpres dan program-program Inpres yang lainnya, jika diteliti merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Tidak ada program yang mewah.
“Programnya terukur, tepat sasaran, berkualitas dan detail. Sehingga eksekusi pelaksanaannya pun berjalan dengan baik,” papar Yudi Latief pada seminar Kepemimpinan Jenderal Besar H.M. Soeharto.
Menteri Kebudayaan Prof. Dr. Fadli Zon yang tampil sebagai pembicara utama menekan, pentingnya generasi muda meneladani kepemimpinan Pak Harto. Dikatakan kepemimpinan Pak Harto yang membuat kejayaan Indonesia, sehingga mencapai lepas landas, masih sangat relevan pada saat ini. Tidak hanya untuk meningkatkan kesejahateraan dan keadilan sosial, juga citra Indonesia di luar negeri. “Pada saat itu Indonesia sangat dihormati dan disegani oleh negara-negara lain. Bahkan di Asia Tenggara sebuah keputusan diambil setelah Indonesia menyetujui,” ungkap Fadli Zon.
Pernyataan Yudi Latief dan Fadli Zon tentu saja bukan sekedar lips service karena berada di Universitas Trilogi, melainkan sebuah kenyataan yang dapat ditelisik lebih mendalam melalui kajian akademik. Setidaknya sebagai bukti, tiga peneliti dari Amerika Serikat berhasil meraih Nobel di bidang ekonomi dengan melakukan penelitian tentang kebijakan pembangunan SD Inpres di seluruh pelosok Indonesia.
Jejak-jejak keberhasilan pembangunan nasional sangat mudah ditelusuri, baik pembangunan ekonomi, hukum, ilmu pengetahuan dan teknologi, pertahanan keamanan dan lain sebagainya. Di bidang teknologi informasi, Indonesia adalah negara ASEAN pertama yang memiliki satelit komunikasi, bernama Palapa. Mengapa Palapa dipilih sebagai nama satelit komunikasi? Palapa tidak lain merupakan sumpah dari Patih Kerajaan Majapahit bernama Gajah Mada. Sumpah itu diucapkan sebagai tekad untuk menyatukan wilayah Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Itulah visi dan misi keberadaan Satelit Palapa, menyatukan seluruh wilayah kepulauan sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Palapa menyatukan teknologi komunikasi dan informasi sehingga dapat mencapai pelosok pedesaan.
Jenderal Besar H.M. Soeharto memang telah wafat, meninggalkan negara dan rakyat yang dicintainya. Pemberian gelar sebagai Bapak Pembangunan Indonesia dan Pahlawan Nasional bukanlah ambisi yang ingin dilekatkan kepada dirinya sendiri. Pak Harto telah mematrikan dirinya untuk perjuangan sekaligus mengisi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, mencapai masyarakat yang berketuhanan, berperikemanusiaan, bersatu, bermusyawarah untuk mufakat dan mencapai keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia. “Itulah mengapa Pak Harto selalu berpegang teguh melaksanakan implementasi Pancasila sebagai Dasar Negara,” ujar Yudi Latief, menegaskan.(Bakarudin AK)






