Ringkasan tulisan: IHSG ditutup anjlok 3,49 persen ke level 5.098 pada Kamis, 29 Oktober 2026, setelah sempat dibuka menguat di pagi hari. Koreksi yang merata di semua sektor ini menjadi yang terdalam di bursa Asia pada hari itu.
Channel8.co.id, Jakarta, — Kalau kamu buka aplikasi saham Kamis pagi, 29 Oktober 2026, ceritanya masih manis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) — indeks yang merangkum pergerakan semua saham di Bursa Efek Indonesia — dibuka menguat 0,43 persen ke level 5.305,20. Sempat menyentuh 5.320,90. Lalu, ceritanya berbalik.
Tekanan jual membesar sejak pagi. Sebelum pukul 10.00 WIB, indeks sudah menembus ke bawah level 5.200. Pada penutupan sesi pertama, IHSG sudah di 5.142,82, turun 2,64 persen dari penutupan Rabu, 28 Oktober 2026, di 5.282,31. Sesi kedua tidak membawa pemulihan. IHSG ditutup di 5.098, turun 184,25 poin atau 3,49 persen dari penutupan hari sebelumnya. Penutupan itu tepat di level terendah sepanjang hari.
Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung. Kok bisa pagi hijau, sore merah dalam? Sederhananya, begini. Harga saham bergerak karena tarik-menarik antara yang mau beli dan yang mau jual. Pagi hari, pembeli masih dominan. Begitu tekanan jual membesar dan menyebar ke banyak saham sekaligus, indeks ikut terseret — bukan karena satu saham saja yang jatuh, tapi karena hampir semuanya ikut melemah.
Dan memang, pelemahan Kamis itu merata. Sektor perindustrian mencatat penurunan terdalam sebesar 4,64 persen, disusul sektor barang baku yang melemah 4,53 persen dan sektor infrastruktur yang terkoreksi 4,24 persen. Sektor teknologi turun 2,40 persen, sedangkan sektor keuangan dan properti masing-masing terkoreksi 2,22 persen. Indeks LQ45 — indeks berisi 45 saham unggulan — turun 4,48 persen ke posisi 515,28. Bloomberg Technoz mencatat pelemahan IHSG ini menjadi yang paling dalam dibanding bursa saham Asia lainnya pada hari itu.
Lalu, bagaimana dengan rupiah? Di pagi yang sama, rupiah justru menguat di pembukaan. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyebut kurs rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan bergerak menguat 0,24 persen atau 43 poin menjadi Rp18.141 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.184 per dolar AS. Pergerakan itu, menurut Josua yang dikutip Antara, dipengaruhi keputusan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang mempertahankan suku bunga acuannya. Artikel ini sengaja hanya menulis angka pembukaan rupiah, bukan penutupan — karena sumber yang dipakai untuk rupiah adalah data pembukaan.
UPDATE — Penutupan rupiah Kamis (29/10): rupiah spot ditutup menguat 0,26% ke Rp18.137 per dolar AS, dari Rp18.184 sehari sebelumnya; kurs acuan JISDOR Bank Indonesia menguat 0,30% ke Rp18.128, dari Rp18.183. (Data Bloomberg via Kontan/TradingView; JISDOR Bank Indonesia, dikutip sejumlah outlet 29/10.)
Buat pembaca yang bukan investor, kenapa ini penting? IHSG bukan cuma angka di layar trader. Ia adalah cermin kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia pada hari itu. Ketika indeks jatuh merata seperti Kamis kemarin, itu sinyal bahwa pelaku pasar sedang berhati-hati — mencermati suku bunga Amerika, nilai tukar, dan prospek ke depan. Bukan berarti ekonomi riil langsung runtuh besok pagi, tapi juga bukan angka yang bisa diabaikan.
Satu hal yang tidak boleh kita lakukan: menunjuk satu penyebab tunggal seolah sudah pasti. Sumber-sumber Kamis mencatat koreksi ini terjadi di tengah pencermatan pasar terhadap keputusan The Fed dan pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir, tapi tidak ada pernyataan resmi tunggal yang dikutip di sini sebagai penyebab pasti koreksi 3,49 persen itu. Jadi, bacalah angka ini sebagai apa adanya: penutupan yang lemah, setelah pembukaan yang kuat, di hari ketika pasar Asia pun ikut mencermati arah yang sama.
Views: 1






