Ringkasan tulisan: Dari Bone, Sulawesi Selatan, seorang dokter membuktikan stunting bisa dilawan bukan dengan program yang sama untuk semua anak, melainkan dengan profil dan penanganan yang berbeda untuk tiap anak. Kisahnya, bersama para relawan pendidikan pelosok, diapresiasi di SATU Indonesia Awards 2026.
Channel8.co.id, Jakarta, — Sebelum kita ngomongin penghargaan, kita ngomongin dulu satu kata yang sering didengar tapi jarang benar-benar dipahami: stunting. Sederhananya, stunting adalah kondisi anak tumbuh lebih pendek dari standar usianya karena kekurangan gizi yang berlangsung lama. Bukan cuma soal tinggi badan. Anak yang stunting berisiko tumbuh kembangnya terhambat — dan itu bisa membekas sampai dewasa.
Nah, di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, ada seorang dokter yang menolak cara lama: memberi penanganan yang sama untuk semua anak. Namanya Andi Rizki Tenryayu, Kepala UPT Puskesmas Patimpeng. Lewat Gerakan Intervensi Gizi Menuju Zero Stunting — disingkat GIZI, GO! — ia memakai pendekatan “Satu Anak, Satu Profil”. Setiap anak dibuatkan profil elektroniknya sendiri. Penanganannya ditentukan sesuai sebabnya: ada yang soal gizi, ada yang butuh penanganan medis, ada yang masalahnya justru sanitasi lingkungan di rumahnya.
Kenapa ini penting? Karena stunting tidak punya satu penyebab tunggal. Anak yang kurang makan tentu beda penanganannya dengan anak yang sering sakit, dan beda lagi dengan anak yang tinggal di lingkungan tanpa sanitasi yang layak. Kalau semuanya diberi paket yang sama, yang terjadi adalah banyak bantuan yang tidak tepat sasaran. GIZI, GO! membalik logikanya: kenali dulu anaknya, baru tentukan intervensinya.
Hasil yang dilaporkan program ini tidak kecil. Bersama bidan desa dan kader Posyandu, program ini menjangkau 982 balita di 10 desa. Jumlah anak stunting turun 45 persen, sedangkan anak yang berisiko stunting turun 60 persen. Angka-angka itu adalah hasil yang dipaparkan dalam pemberitaan tentang program tersebut — dan redaksi menuliskannya sebagai hasil yang dilaporkan, bukan sebagai hasil verifikasi independen.

Kisah Andi Rizki ini diapresiasi di ajang 17th Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2026, yang digelar di Catur Dharma Hall, Menara Astra Sudirman, Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026, dan diumumkan lewat siaran pers pada Kamis, 29 Oktober 2026. Ia menjadi penerima apresiasi bidang kesehatan, sekaligus Juara 1 dan Pemenang Utama Bidang Kesehatan di ajang itu. Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman, menyampaikan apresiasinya: “Ini merupakan kebanggaan bagi Kabupaten Bone. Inovasi yang lahir dari putri daerah mampu menunjukkan kualitas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.”
Tapi Andi Rizki bukan satu-satunya cerita hari itu. SATU Indonesia Awards 2026 diikuti 19.155 peserta — naik sekitar 8 persen dari 17.708 peserta tahun sebelumnya — dan menetapkan lima penerima kategori umum plus empat penerima kategori Desa Sejahtera Astra, total sembilan penerima. Di bidang pendidikan, ada Hari Novar dari Pekanbaru, Riau. Lewat Indonesian Youth Education & Social (IYES) Mengajar, Hari mengajak ratusan anak muda dari kota menjadi relawan pendidikan di desa-desa terpencil di Riau, termasuk kampung Suku Talang Mamak yang ditempuh empat jam naik perahu dan belum berlistrik. Dalam dua tahun, relawan IYES menjalankan kegiatan di sembilan sekolah di lima kabupaten — mengajar siswa, melatih guru, dan memperbaiki fasilitas sekolah.
Presiden Direktur Astra, Rudy, menyampaikan harapan yang sederhana: “Sehingga semakin banyak masyarakat Indonesia yang merasakan manfaatnya.” Pada kesempatan yang sama, Astra juga meluncurkan Program Kontribusi Sosial 70 Tahun Astra dengan target menjangkau 700 Desa Sejahtera Astra di tujuh pulau di Indonesia.
UPDATE — Dana pembinaan SATU Indonesia Awards: setiap penerima apresiasi berhak atas dana pembinaan Rp65 juta serta kesempatan mengikuti program pembinaan dan pengembangan bersama Astra. (Siaran pers Astra, dikutip YoungOnTop, Medcom/CirebonTimes, CeknRicek, dan FaceIndonesia.)
Kalau ditarik benang merahnya, cerita-cerita ini punya satu kesamaan: perubahan tidak selalu datang dari program raksasa. Kadang ia datang dari satu puskesmas yang mau repot mencatat profil tiap anak satu per satu, atau dari sekelompok anak muda yang mau naik perahu empat jam demi mengajar di kampung tanpa listrik. Dan justru karena dikerjakan dengan sabar di level paling dasar itulah, hasilnya bisa diukur — bukan cuma dirasakan. (redaksi C8)
Views: 1







