Ringkasan tulisan: The Fed memutuskan menahan suku bunga acuannya di 3,75–4,00 persen lewat voting 10–2, karena inflasi Amerika masih tinggi. Keputusan ini membantu rupiah menguat di pembukaan, tapi tidak cukup menahan tekanan jual di pasar saham Indonesia.
Channel8.co.id, Washington, — Kamis dini hari, 29 Oktober 2026, pukul 01.00 WIB, kabar yang ditunggu pasar dunia akhirnya keluar. Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75–4,00 persen. Keputusan itu diambil dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober 2026 waktu setempat, dan diumumkan Rabu, 28 Oktober 2026, pukul 14.00 waktu Washington.
Sebelum masuk lebih jauh, mari kita sederhanakan dulu istilahnya. Suku bunga acuan itu seperti “harga” meminjam uang di level negara. Kalau suku bunga naik, meminjam jadi lebih mahal, orang dan perusahaan cenderung menahan belanja, dan inflasi — kenaikan harga barang secara umum — diharapkan melambat. FOMC adalah komite di dalam The Fed yang memutuskan suku bunga itu. Basis poin adalah satuan kecilnya: 25 basis poin sama dengan 0,25 persen.
Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung: keputusan kali ini tidak bulat. Hasil votingnya 10–2. Sepuluh anggota memilih menahan, dua anggota berbeda pendapat — dalam bahasa The Fed disebut dissent. Dua yang berbeda pendapat itu adalah Gubernur The Fed Lisa Cook dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack. Keduanya mengusulkan kenaikan sebesar 25 basis poin. Alasannya, menurut pernyataan FOMC, inflasi masih tinggi, sementara aktivitas ekonomi berkembang dengan kuat.

Pernyataan resmi FOMC dikutip dari CNBC pada Kamis, 29 Oktober 2026, berbunyi: “Inflasi masih berada pada level tinggi. Akumulasi informasi yang lebih banyak akan membantu Komite menentukan sikap kebijakan yang tepat untuk memastikan inflasi kembali ke target 2 persen secara tepat waktu.”
Target 2 persen itu penting untuk dipahami. The Fed tidak menargetkan harga turun ke level lama — itu hampir tidak pernah terjadi. Yang ditargetkan adalah laju kenaikan harga melambat sampai sekitar 2 persen per tahun. Selama inflasi masih di atas target itu, The Fed merasa belum bisa bersantai.
Lalu, apa kata Ketua The Fed Kevin Warsh? Ia tidak memberikan petunjuk pasti mengenai arah suku bunga berikutnya. Dalam konferensi pers usai pengumuman, Warsh menegaskan jajarannya “telah memperjelas kesiapan kami untuk bertindak sesuai tuntutan keadaan, dan kami telah menunjukkan kemauan kami untuk bertindak.” Artinya, dalam bahasa yang lebih lugas: kami belum bilang akan naik atau turun berikutnya, tapi kalau data mengharuskan, kami siap bergerak. Keputusan berikutnya, menurut FOMC, akan bergantung pada data ekonomi yang akan dirilis.
Konteksnya: level 3,75–4,00 persen ini adalah level yang dicapai setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2026. Jadi, keputusan Oktober ini adalah jeda setelah kenaikan itu — menahan, sambil melihat apakah inflasi benar-benar melambat.
Sekarang pertanyaan yang paling sering ditanyakan pembaca Indonesia: kalau The Fed menahan bunga, kenapa rupiah menguat tapi IHSG malah anjlok di hari yang sama? Jawabannya: karena rupiah dan saham bergerak lewat jalur yang berbeda, meski sama-sama dipengaruhi kabar yang sama.
Sederhananya, begini. Ketika suku bunga Amerika tinggi, dolar Amerika jadi lebih menarik bagi investor global, dan rupiah cenderung tertekan. Ketika The Fed menahan — tidak menaikkan lagi — tekanan itu mereda sesaat. Itu yang terlihat pada Kamis pagi: rupiah di pembukaan menguat 0,24 persen atau 43 poin menjadi Rp18.141 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya Rp18.184, menurut Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede yang dikutip Antara. Josua menyebut keputusan FOMC Oktober 2026 itu sesuai ekspektasi konsensus pasar.
UPDATE — Penutupan rupiah Kamis (29/10): rupiah spot ditutup menguat 0,26% ke Rp18.137 per dolar AS, dari Rp18.184 sehari sebelumnya; kurs acuan JISDOR Bank Indonesia menguat 0,30% ke Rp18.128, dari Rp18.183. (Data Bloomberg via Kontan/TradingView; JISDOR Bank Indonesia, dikutip sejumlah outlet 29/10.)
Tapi pasar saham punya kekhawatirannya sendiri. IHSG pada hari yang sama justru ditutup anjlok 3,49 persen ke 5.098 (cerita lengkapnya ada di artikel Bisnis edisi ini). Artinya, kabar “tidak ada kenaikan baru” cukup untuk meredakan tekanan di nilai tukar sesaat, tapi tidak cukup untuk membalikkan tekanan jual yang sudah meluas di bursa. Dua pasar, dua reaksi — dan keduanya bisa benar pada saat yang sama.
Jadi, apa yang harus diperhatikan ke depan? Satu: data inflasi Amerika berikutnya. Dua: pertemuan The Fed pada Desember 2026, ketika — menurut pemberitaan Kamis — The Fed berpeluang kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan harga belum mereda. Tiga: jangan membaca satu keputusan The Fed sebagai vonis tunggal atas ekonomi Indonesia. Ia adalah satu variabel besar di antara banyak variabel, dari nilai tukar sampai kepercayaan investor di bursa. Memahaminya pelan-pelan, seperti ini, justru membuat kita tidak gampang panik setiap kali ada kabar dari Washington. (redaksi C8)
Views: 1






