Human

Dari Istana untuk 39 Medali: Bonus Rp3 Miliar dan Janji Pembinaan Atlet Jangka Panjang

×

Dari Istana untuk 39 Medali: Bonus Rp3 Miliar dan Janji Pembinaan Atlet Jangka Panjang

Sebarkan artikel ini
Presiden Prabowo Subianto memberikan bonus dan apresiasi kepada para atlet peraih medali pada Asian Games ke-20 dan Asian Para Games ke-5 Aichi-Nagoya 2026. Apresiasi tersebut diberikan dalam sebuah acara yang digelar di halaman Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev

Ringkasan tulisan: Presiden Prabowo menyerahkan bonus kepada peraih medali Asian Games dan Asian Para Games 2026 di Istana, dengan bonus emas perorangan Rp3 miliar dan total anggaran Rp158,3 miliar. Di balik angka itu ada janji yang lebih penting: pembinaan atlet yang terencana dan jangka panjang.

Channel8.co.id, Jakarta, — Kamis, 29 Oktober 2026, Istana Merdeka diwarnai biru-putih. Presiden Prabowo Subianto menerima para peraih medali Asian Games ke-20 dan Asian Para Games ke-5 Aichi-Nagoya 2026, lengkap dengan pelatih dan pengurus cabang olahraga, untuk memberikan apresiasi sekaligus bonus.

Hasil kontingen Indonesia di ajang itu: 39 medali, terdiri atas lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu, dengan posisi ke-16 di klasemen akhir medali Asian Games 2026. Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyebut acara di Istana itu sebagai pemberian bonus dan penerimaan atlet. Besaran bonusnya disesuaikan dengan kategori pertandingan: atlet peraih emas nomor perorangan memperoleh Rp3 miliar, sedangkan peraih emas nomor ganda atau berpasangan menerima Rp2,4 miliar. Total anggaran bonus untuk atlet dan pelatih mencapai Rp158,3 miliar.

Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr

UPDATE — Rincian bonus perak/perunggu: rincian bonusnya dibedakan per nomor pertandingan. Untuk nomor perorangan, peraih perak memperoleh Rp525 juta dan perunggu Rp262,5 juta. Untuk nomor ganda, perak Rp420 juta dan perunggu Rp210 juta. Untuk nomor beregu, emas Rp1,5 miliar, perak Rp315 juta, dan perunggu Rp157,5 juta. Total anggaran Rp158,3 miliar itu mencakup Asian Games (Rp61,1 miliar) dan Asian Para Games (Rp97,2 miliar). (Sekretariat Kabinet + Ketik, 29–30/10.)

Di antara para atlet itu, ada satu cerita yang dikutip Antara dan layak diingat. Pebulu tangkis Alwi Farhan menjadi bagian penting dalam kebangkitan tim Indonesia saat tertinggal 0–2 di final. Bayangkan posisinya: tim sudah di ujung, satu kekalahan lagi dan semuanya selesai. Lalu kebangkitan itu datang — bukan dari satu orang saja, tentu saja, tapi dari tim yang menolak menyerah saat skor sudah tidak bersahabat. Itulah kenapa medali kadang terasa lebih besar dari logamnya: ia menyimpan cerita tentang tidak menyerah.

Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung. Apakah bonus sebesar itu berarti masalah olahraga Indonesia selesai? Presiden sendiri memberi jawaban yang justru mengarah ke depan, bukan ke belakang. “Olahraga adalah kehormatan bangsa, bangsa yang kuat akan mencerminkan bahwa rakyatnya kuat, rakyat yang kuat, rakyat yang semangat. Rakyat yang semangat, bangsa semangat, bangsa tidak dapat ditaklukkan, kita ingin jadi bangsa yang terhormat,” kata Prabowo di Istana Merdeka.

Dan ia menginstruksikan Menpora Erick Thohir agar memperkuat sistem pembinaan atlet secara terencana dan berjangka panjang, sejak usia dini. Sederhananya, begini maksudnya. Bonus adalah penghargaan untuk hasil kemarin. Pembinaan adalah investasi untuk hasil besok. Atlet tidak lahir dari bonus; ia lahir dari latihan yang konsisten, kompetisi yang berjenjang, dan sistem yang menemukan bakat sejak muda — lalu merawatnya sampai matang. Tanpa yang kedua, yang pertama hanya jadi seremoni sesaat.

Buat kita yang menonton dari rumah, cerita ini punya sisi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setiap atlet yang berdiri di Istana itu pernah jadi anak yang latihan pagi-pagi buta, kalah berkali-kali, dan tetap kembali ke lapangan. Bonus Rp3 miliar mungkin terasa jauh dari hidup kita. Tapi pelajaran di baliknya dekat sekali: hasil besar hampir selalu datang dari proses yang panjang dan tidak terlihat. Dan kalau negara serius dengan pembinaan jangka panjangnya, mungkin anak yang hari ini latihan di lapangan kampung adalah nama yang akan kita soraki di Asian Games berikutnya. (redaksi C8)

Views: 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Human

Dari Bone, Sulawesi Selatan, seorang dokter membuktikan stunting bisa dilawan bukan dengan program yang sama untuk semua anak, melainkan dengan profil dan penanganan yang berbeda untuk tiap anak. Kisahnya, bersama para relawan pendidikan pelosok, diapresiasi di SATU Indonesia Awards 2026.

Human

Pameran “Dua Wajah, Satu Jiwa” di Museum Nasional mempertemukan topeng tradisional Indonesia dan Korea — termasuk sepuluh pasang topeng yang ternyata bercerita tentang hal yang sama, seperti topeng yang sama-sama menggambarkan manusia di usia senja. Ini penting karena topeng sering kita anggap sekadar hiasan, padahal ia adalah cermin: cara dua bangsa yang jauh berbeda memaknai hidup, tua, dan jati diri.

Human

Dalam diskusi “Darurat Perundungan di Sekolah” di Senayan, Senin, 26 Oktober 2026, Menkomdigi Meutya Hafid menyebut 45 persen anak pernah mengalami perundungan siber, sementara hanya 39,9 persen orang tua yang merasa cukup mampu mendampingi anak di internet. Ini penting karena perundungan di dunia maya tidak berhenti saat bel sekolah berbunyi — ia bisa masuk ke kamar anak lewat gawai, dan pendampingan orang tua menjadi garis pertahanan pertama yang ternyata masih rapuh.