Bisnis

Hari Ini IHSG Pakai Rumus Baru: Saham HSC Keluar, Bank Besar Makin Berpengaruh

×

Hari Ini IHSG Pakai Rumus Baru: Saham HSC Keluar, Bank Besar Makin Berpengaruh

Sebarkan artikel ini
Infografis: Channel8 — bobot sebelum vs sesudah perubahan IHSG: BBCA, BBRI, BMRI, ASII, dan gabungan empat bank besar 24,33% menjadi 27,45% (Estimasi BRI Danareksa).

Ringkasan: Mulai perdagangan hari ini, saham-saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi tidak lagi memengaruhi IHSG. Level indeksnya tidak berubah mendadak, tapi peta pengaruh di dalamnya bergeser ke bank-bank besar.

Channel8.co.id, Jakarta, — Mulai perdagangan hari ini, Senin (2/11/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) resmi memakai rumus baru. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan saham-saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan indeks. Buat kamu yang bukan pemain saham, tenang — penjelasannya tidak serumit kelihatannya. Dan buat kamu yang punya reksa dana saham, ini penting untuk dipahami.

Apa yang berubah mulai hari ini?

Sederhananya, begini. IHSG itu seperti nilai rata-rata seluruh saham yang tercatat di bursa — tapi bukan rata-rata biasa, melainkan rata-rata yang dibobot berdasarkan nilai pasar dan porsi saham yang beredar bebas di publik (free float). Nah, ada sekelompok saham yang kepemilikannya terkonsentrasi pada segelintir pemegang saham saja. Porsi sahamnya yang benar-benar beredar bebas di pasar relatif kecil. Kelompok inilah yang disebut HSC.

BEI mengumumkan perubahan ini pada Kamis (22/10/2026): saham HSC dan saham di Papan Akselerasi tidak lagi memenuhi kriteria seleksi IHSG. Metode dasar perhitungannya tidak berubah — tetap memakai metode Capped Free Float Adjusted Market Capitalization Weighted, dengan batas bobot maksimum 9 persen per saham. Yang berubah adalah siapa saja yang masuk perhitungan, plus jadwal evaluasi berkala yang berpindah dari Maret, Juni, September, dan Desember menjadi Januari, April, Juli, dan Oktober, dengan hasil evaluasi berlaku pada hari bursa pertama Februari, Mei, Agustus, dan November. BEI juga menambahkan evaluasi insidental: saham yang masuk atau keluar kategori HSC di luar jadwal evaluasi akan langsung disesuaikan.

Soal jumlahnya, hasil evaluasi berkala BEI Oktober 2026 yang berlaku efektif hari ini mencatat 81 saham HSC dikeluarkan dari perhitungan IHSG, sehingga konstituen IHSG yang tersisa 837 emiten. Angka 80 yang beredar sebelumnya berasal dari pengumuman BEI 21 Oktober dan ilustrasi pada workshop 31 Oktober — daftar yang lebih lama daripada hasil evaluasi Oktober ini.

Kenapa levelnya tidak langsung anjlok 18 persen?

Ini bagian yang paling sering bikin salah paham. Kelompok saham HSC sebelumnya menyumbang bobot sekitar 18 persen terhadap IHSG. Logikanya, kalau 18 persen dikeluarkan, indeksnya harus turun 18 persen, kan? Tidak begitu cara kerjanya.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan, pengeluaran saham HSC tidak akan mengubah nilai indeks pada saat penyesuaian. Bursa menyesuaikan divisor — sederhananya, angka pembagi dalam rumus indeks — sehingga level pembukaan IHSG pada Senin (2/11) tetap setara dengan level penutupan Jumat (30/10/2026), yaitu 5.057,05 setelah melemah 0,80 persen atau 41,01 poin pada Jumat itu.

Analoginya begini: bayangkan satu loyang pizza dibagi untuk 10 orang, lalu 2 orang pulang. Pizzanya tidak mengecil — hanya potongan untuk 8 orang yang tersisa yang jadi lebih besar. Begitu pula IHSG: bobot saham HSC didistribusikan ulang ke saham-saham yang tersisa. “Tidak akan ada perubahan. Dengan keluarnya saham HSC, perhitungan IHSG akan dibagi ke sisa saham di luar HSC,” kata Jeffrey, seperti dikutip Kontan via TradingView. BEI juga sudah melakukan backtest — pengujian atas data historis — dan menyebut pengeluaran HSC tidak akan menimbulkan lonjakan, melainkan membuat IHSG lebih kredibel.

Satu hal yang tidak kalah penting: saham HSC tidak dilarang diperdagangkan. “Ke depan saham HSC itu akan dikeluarkan dalam perhitungan IHSG. Tetap diperdagangkan, tapi harganya tidak pengaruhi IHSG,” kata Jeffrey. Jadi kalau kamu memegang saham-saham seperti BREN, DSSA, atau DCII yang disebut-sebut masuk kategori HSC, sahamnya tetap bisa diperjualbelikan seperti biasa — hanya saja geraknya tidak lagi menggerakkan IHSG.

Siapa yang bobotnya naik?

Inilah konsekuensi yang paling terasa: bank-bank besar makin dominan. Berdasarkan estimasi BRI Danareksa Sekuritas pada Jumat (30/10/2026), bobot BBCA naik dari 8,75 persen menjadi 9 persen, BBRI dari 7,93 persen menjadi 9 persen, BMRI dari 5,57 persen menjadi 6,95 persen, dan ASII dari 3,35 persen menjadi 4,15 persen. Bobot gabungan empat bank besar itu naik dari 24,33 persen menjadi 27,45 persen — lebih dari seperempat IHSG.

Maybank Sekuritas dalam catatan 26 Oktober 2026 menilai saham perbankan berkapitalisasi besar dan telekomunikasi menjadi pihak yang paling diuntungkan dari perubahan bobot ini. Sebaliknya, pergerakan saham HSC seperti BREN, DSSA, DCII, dan BYAN tidak lagi memengaruhi IHSG.

Buat investor ritel, apa artinya?

Pertama, kenaikan bobot bukan berarti kenaikan harga — itu dua hal yang berbeda, dan Maybank sendiri menekankannya. Kedua, IHSG ke depan akan lebih sensitif terhadap sektor perbankan, dan dengan sendirinya terhadap rupiah dan arus dana asing. BRI Danareksa memperkirakan setiap perubahan 1 persen pada harga saham empat bank besar dapat berdampak sekitar 14 poin terhadap IHSG, dengan basis indeks 5.030. Ketiga, kalau kamu berinvestasi lewat produk yang meniru IHSG, komposisi yang kamu ikuti ikut berubah — bukan karena manajer investasimu mengubah strategi, tapi karena indeks acuannya yang berubah.

Latar belakangnya juga patut dicatat: pada 15 Oktober 2026, MSCI membuka konsultasi soal usulan perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Itu masih konsultasi, bukan keputusan — tapi cukup untuk menjelaskan kenapa BEI dan OJK sedang sibuk memperbaiki kredibilitas pembentukan harga di pasar kita.

Artikel ini bukan rekomendasi beli atau jual saham apa pun. Ini undangan untuk memahami: mulai hari ini, IHSG yang kamu lihat di layar adalah IHSG dengan komposisi yang lebih mencerminkan saham-saham yang benar-benar diperdagangkan publik. (redaksi C8)

Views: 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bisnis

Kurs acuan Bank Indonesia, JISDOR, ditutup di Rp18.183 per dolar AS pada Rabu 28 Oktober — level terlemah sepanjang sejarah. BI janji terus intervensi, dan pasar kini menanti keputusan The Fed dini hari nanti.

Bisnis

Setelah Senin memerah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Selasa ini anjlok lebih dalam — turun 106,96 poin atau 1,99 persen ke level 5.266,13 — sementara rupiah ikut melemah ke Rp18.156 per dolar AS. Ini penting meski kamu bukan pemain saham: pasar yang goyah dua hari berturut-turut adalah sinyal bahwa pelaku pasar sedang gelisah menanti keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan penataan ulang indeks global pada November.