Ringkasan: BPS mencatat inflasi Oktober 2026 sebesar 3,23 persen secara tahunan, sedikit melandai dari 3,28 persen pada September. Pangan masih jadi penyumbang terbesar, dengan cabai, beras, dan daging di barisan depan.
Channel8.co.id, Jakarta, — Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka inflasi Oktober 2026 pada Senin (2/11/2026): 0,22 persen secara bulanan, 3,23 persen secara tahunan, dan 2,40 persen sepanjang tahun kalender. Indeks Harga Konsumen (IHK) — semacam keranjang belanja yang dipakai BPS untuk mengukur perubahan harga — naik dari 112,31 pada September menjadi 112,56 pada Oktober 2026, dan dari 109,04 pada Oktober 2025.
Angka yang Perlu Dibaca Berdampingan
Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung. Angka bulanan (0,22 persen) artinya harga naik segitu dari September ke Oktober. Angka tahunan (3,23 persen) artinya harga naik segitu dibanding Oktober tahun lalu. Dan angka tahun kalender (2,40 persen) artinya akumulasi kenaikan sejak Januari sampai Oktober tahun ini. Dibanding September — yang inflasi tahunannya 3,28 persen dan bulanannya 0,30 persen — laju Oktober ini memang sedikit melandai. Tapi melandai bukan berarti harga turun. Harga masih naik, hanya kecepatannya sedikit berkurang. Angka 3,23 persen ini juga masih berada di dalam rentang sasaran inflasi Bank Indonesia dan pemerintah, yakni 2,5 persen plus-minus 1 poin, alias 1,5 sampai 3,5 persen.

Siapa Pendorongnya
Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, pendorong utama inflasi tahunan adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau: inflasinya 4,82 persen dengan andil 1,40 poin dari total 3,23 persen. Komoditas yang disebut BPS antara lain cabai rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, daging ayam ras, sigaret kretek mesin, dan daging sapi. Kelompok transportasi menyusul dengan inflasi 4,87 persen dan andil 0,59 poin, didorong bensin, tarif angkutan udara, dan biaya pemeliharaan kendaraan. Dari sisi komponen, inflasi inti — harga-harga yang cenderung stabil dan tidak mudah bergejolak — tercatat 2,56 persen dengan andil terbesar, 1,64 poin. Sementara harga bergejolak (volatile food) naik 5,81 persen dengan andil 0,96 poin, dan harga yang diatur pemerintah naik 3,24 persen dengan andil 0,63 poin. Secara bulanan, pendorong terbesarnya adalah cabai merah (andil 0,13 poin), cabai rawit (0,05 poin), dan tomat (0,04 poin).
Apa Artinya buat Dompet Kita
Dari sisi wilayah, seluruh provinsi mengalami inflasi tahunan pada Oktober. Tertinggi di Sulawesi Utara sebesar 8,07 persen, terendah di DKI Jakarta sebesar 2,52 persen. Jurang itu penting: artinya tekanan harga tidak dirasakan sama di semua daerah. Buat kita sebagai pembeli, pesan praktisnya sederhana — kelompok pangan masih jadi penentu terbesar belanja harian, jadi perubahan harga cabai, beras, dan daging di pasar akan terasa lebih cepat daripada angka inflasi di berita. Dan buat yang memantau kebijakan, inflasi yang masih di dalam sasaran memberi ruang, tapi belum jadi alasan untuk santai, karena pangan dan transportasi masih menekan.
UPDATE — Penutupan pasar Senin (2/11/2026), hari pertama saham high shareholding concentration (HSC) dikeluarkan dari perhitungan IHSG: IHSG ditutup menguat 39,78 poin atau 0,79 persen ke level 5.096,83, dari penutupan Jumat (30/10/2026) di 5.057,05. Rupiah di pasar spot ditutup melemah 9 poin atau 0,05 persen ke Rp18.156 per dolar AS (dari Rp18.147 pada Jumat), sementara kurs referensi JISDOR Bank Indonesia tercatat Rp18.161 per dolar AS, melemah 0,13 persen dari Rp18.138 pada Jumat. (Sumber: Investor.id, Bloomberg Technoz, Validnews, SuaraGarut mengutip BEI/RTI, 2/11/2026; box cek pra-terbit Selasa 06:53.)
Views: 0






