Oleh : Bakarudin AK
Channel8.co.id. Eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) – Israel melawan Iran masih membara sampai detik ini. Dampak dari konflik tersebut membuat banyak negara-negara di dunia mulai ketar-ketir.Pemerintah dari banyak negara terpaksa mengatur strategi untuk mengamankan kehidupan warganya. Akankah sejarah kehidupan dunia akan berulang seperti pada Perang Dunia yang lalu? Tentu tidak ada yang berharap, konflik AS-Israel melawan Iran berubah menjadi Perang Dunia III, yang melibatkan banyak negara dan senjata-senjata pembunuh “kelas berat”.
Sesungguhnya kehidupan dunia belum pulih sepenuhnya akibat wabah Covid – 19 beberapa tahun lalu. Wabah yang menelan jutaan jiwa dan menimbulkan krisis ekonomi, telah mengubah kehidupan secara signifikan. Manusia yang sebelumnya dapat menikmati kehidupan sosial dengan leluasa, harus mengubah kebiasaan-kebiasaan baru, untuk menjaga kesehatan. Selain itu, dilakukan pembatasan aktivitas manusia, antara lain, melalui work form home (WFH) atau bekerja dari rumah.
Pada saat ini, sejumlah negara pun sudah memberlakukan WFH terutama untuk para pegawai pemerintah. Hanya saja kali ini adalah untuk menekan konsumsi bahan bakar minya, yang langka dan mengalami kenaikan harga. Pemerintah Indonesia pun mengambil kebijakan yang sama. Melalui edaran Menteri Dalam Negeri Tito Karnivian telah diputuskan, Aparatur Sipil Negara (ASN) di bidang non pelayanan publik harus melakukan WFH, sebaliknya sektor pelayanan publik seperti pelayanan kesehatan, perbankan, kepolisian, TNI, dan beberapa sektor lain tetap bekerja seperti biasa. Pemerintah DKI Jakarta misalnya memilih penerapan WFH pada hari Jumat. Pilihan ini dilakukan karena jam kerja pada hari Jumat lebih pendek dibandingkan hari-hari lain.
Pemerintah tidak hanya mengambil keputusan untuk WFH. Lebih dari itu, seperti disampaikan Menteri Koordinator Perekonomian Erlangga Hartarto, pemerintah telah memutuskan pemotongan anggaran untuk perjalanan dinas antar daerah sebesar 50%. Artinya, akan banyak program-program perjalanan dinas yang dipangkas. Himbauan agar para ASN dan masyarakat melakukan penghematan pun digaungkan. Bentuk penghematan energi dapat dilakukan dengan menggunakan kendaraan umum, sepeda bahkan berjalan kaki dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Pertanyaannya, separah apakah dampak krisis energi akibat konflik AS-Israel melawan Iran terhadap Indonesia? Mengutip Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara (APBN) tetap aman saat ini, sehingga tidak harus menaikan defisit anggaran di bawah 3%. Sedangkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meyakinkan masyarakat, ketersediaan BBM dan gas masih tetap aman. Begitu pula Menteri Pertanian Amran Sulaeman menegaskan stok beras dan pangan mencukupi untuk kebutuhan konsumsi masyarakat.
Kita mengharapkan informasi-informasi dari para menteri tersebut bukan sekedar menenangkan publik. Kita juga mengharapkan tidak terjadi kenaikan harga di berbagai sektor, tidak terjadi panic buying, dan munculnya para spekulan yang mengambil keuntungan dari kondisi yang sedang terjadi. Memang dibutuhkan komitmen, empati, dan kesadaran dari seluruh komponen bangsa, semua harus ikut berperan untuk kepentingan survival negara dan bangsa. Kita tidak bisa hanya menggantung kepada pemerintah, sebaliknya aparat negara juga harus mau menyingsingkan baju, memberikan teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak contoh yang justru dapat memicu antipasti masyarakat, ketika terjadi krisis justru pejabat pemerintah berasyik-asyik menikmati liburan mewah, menggunakan kendaraan dinas untuk kepentingan pribadi, berlebihan dalam pengawalan, bahkan “menilap” anggaran pembangunan. Perilaku tidak terpuji tersebut harus dihentikan. Presiden Prabowo Subianto sudah berulangkali mengingatkan, agar para pejabat menghentikan korupsi, menyalahgunakan kekuasaan, dan tidak melakukan under invoice. Para penegak hukum pun menghentikan “main mata” untuk menghukum atau meringankan hukuman seseorang.
Dalam konteks mengatasi krisis, saya jadi teringat pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Dalam beberapa kesempatan, Pak Harto sering menekankan pentingnya kesadaran untuk melakukan penghematan di seluruh sektor kehidupan. Pada saat itu Pak Harto menggunakan istilah “kencangkan ikat pinggang”. Kita tentu mengenal apa yang disebut “ikat pinggang”. Semua dapat dipastikan pernah menggunakan ikat pinggang—bisa sebagai asesoris dan mencegah celana agar tidak turun atau “melorot” ke bawah pinggang.
Secara etismologi “kencangkan ikat pinggang” memiliki kaitan dengan peristiwa religious pada masa Rasullah. “Kencangkan ikat pinggang” adalah ungkapan yang merujuk pada peningkatan kesungguhan, baik dalam konteks ibadah (terutama 10 malam terakhir Ramadan untuk meraih Lailatul Qadar) maupun efisiensi ekonomi (menghemat anggaran atau pengeluaran). Ini bermakna fokus, bersiap siaga, dan bekerja lebih keras atau berhemat.
Berdasarkan hadis Riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW akan mengencangkan ikat pinggang” (yasuddul izar) saat memasuki 10 malam terakhir Ramadan. Ini adalah metafora untuk meningkatkan kesungguhan ibadah, menjauhi tempat tidur (mengurangi tidur), dan menghidupkan malam dengan zikir, doa, dan salat. Fokus penuh dalam beribadah untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar.
Selain itu, secara ekonomis mengurangi pengeluaran secara drastis, melakukan efisiensi, atau hidup hemat. Sebab itu, “kencangkan ikat pinggang”, sering digunakan dalam konteks kebijakan publik seperti pemerintah/instansi melakukan efisiensi anggaran, atau individu yang harus berhemat ketat karena situasi keuangan yang terbatas. Dalam konteks olahraga, terutama angkat beban, lifting belt digunakan untuk menstabilkan tulang belakang dan area pinggang saat gerakan berat.
Secara keseluruhan, baik dalam agama maupun kehidupan sehari-hari, ungkapan ini memotivasi tindakan proaktif dan disiplin yang lebih ketat untuk mencapai tujuan tertentu. Tidak mengherankan, jika Presiden Soeharto menggunakan istilah “kencangkan ikat pinggang” dalam kebijakan ekonomi-politik, merujuk pada anjuran atau keharusan bagi rakyat untuk hidup prihatin, berhemat, dan menahan diri demi stabilitas ekonomi nasional. Kebijakan ini merupakan bentuk austerity (pengetatan anggaran) yang diterapkan untuk mengatasi tantangan ekonomi, terutama saat terjadi krisis atau ketika pemerintah membutuhkan penghematan anggaran yang besar.
Meskipun sering dikaitkan dengan masa krisis moneter tahun 1998, anjuran “kencangkan ikat pinggang” sudah sering digaungkan oleh Soeharto jauh sebelumnya untuk mempertahankan stabilitas ekonomi. Kebijakan ini bertujuan agar ekonomi tetap stabil dan memprioritaskan pembangunan ekonomi nasional, di mana rakyat diminta untuk tidak konsumtif dan bersedia hidup dalam keterbatasan. Selama era tersebut, slogan ini menjadi simbol kesederhanaan yang dipaksakan atau dianjurkan kepada masyarakat.
Tidak salah, apabilan Presiden Prabowo Subianto apabila pada suatu kesempatan menyampaikan kembali strategisnya kebijakan “kencangkan ikat pinggang” tidak hanya pada saat terjadi krisis maupun dalam kondisi membaiknya perekomian nasional. Perilaku berfoya-foya, flexing (pamer) barang-barang mewah, dan mentalitas OKB (orang kaya baru)—berujung pada penyalahgunaan kekuasaan dan koruptif—akan sangat melukai hati masyarakat, sehingga tumbuh antipasti terhadap setiap kebijakan pembangunan. Hal itu harus dihentikan. Bukankah “kencangkan ikan pinggang” telah dicontohkan Nabi Muhamad dalam kehidupan sehari-hari. Marilah kita berempati dan selalu membangun kesadaran, agar tidak selalu tersesat di dalam belantara kehidupan. Semoga. (BAKARUDIN AK)





