Oleh : Bakarudin AK
Ruang Lantai 5 Gedung IASTH Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia Jalan Salemba Raya No 4 Jakarta Pusat, penuh sesak. Sekitar 250 orang duduk berjajar di dalam ruangan. Akibatnya, ruangan yang sesungguhnya secara ideal memiliki kapasitas 150 orang tersebut, membuat suhu membuat sejumlah peserta harus mengibaskan kertas bahkan kartu undangan di tangan masing-masing. Hari Senin 8 Juni 2026 itu tengah digelar Peluncuran Buku dan Sarasehan Ketahanan Nasional “Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen Analisis SWOT Negara ala Jawa”.
Buku karya B. Wiwoho yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas membahas laku spiritual Pak Harto dan juga presiden-presiden lainnya, termasuk Presiden Prabowo Subianto sampai Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sejumlah stasiun televisi, puluhan media online memuat acara tersebut secara lengkap. Liputan yang luar biasa tentu saja, karena memang jarang terjadi sebuah peluncuran buku dan sarasehan, mendapat perhatian dari banyak media massa. Hari Senin itu bertepatan pula dengan peringatan hari kelahiran Pak Harto yang ke 105 tahun.
Dihadiri sejumlah pejabat kementerian, sejarawan, tokoh politik, tokoh nasional dan aktivis Malari Hariman Siregar. Sedangkan pada acara sarasehan dipandu moderator Dr. Puspitasari. S.Sos., M.Si (dosen SPPB), Dr. Palupi Lindiasari Samputra, S.Pi., M.M., Ketua Departemen Kajian Stratejik Ketahanan dan Keamanan (Plt. Ketua Program Studi Magister Kajian Ketahanan Nasional), Dr. Lita Sari Barus, S.T., M.Si., (Dosen KPP SPPB), Muhammd Sya’roni Rofi, M.A., Ph.D., (Dosen SPPB UI) dan penulis buku Bambang Wiwoho.
Pembahasan para narasumber, bahkan sang moderator terhadap buku “Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen Analisis SWOT Negara ala Jawa”, memperkaya khasanah atau pemahaman terhadap laku spiritual tak hanya Presiden ke-2 Jenderal Besar HM. Soeharto, tetapi para presiden lainnya. Intinya laku spiritua penting bagi seorang pemimpin, sehingga dalam mengambil keputusan tidak tergesa-gesa, tidak grusa-grusu, melainkan harus disertai dengan pertimbangan yang matang.
Kharisma Pak Harto Bikin PM Margareth Thatcher Takluk
Tulisan pendek ini secara spisik, bagaimana laku spiritual yang dilakukan dalam kehidupannya, menimbulkan pancaran istimewa kepada diri Pak Harto. “The Smiling General” merupakan julukan terkenal yang disandang Pak Harto, disebut sebagai senyum yang penuh misteri, karena tidak dapat dinilai, apakah senyum gembira atau sedang marah? Terlepas dari itu paparan Muhammd Sya’roni Rofi, M.A., Ph.D., menyebutkan senyum Pak Harto adalah sebuah kharisma, yang membuat Perdana Menteri Inggris Margareth Thacher tampak takluk di hadapan Pak Harto.
Dalam masa hidupnya, mantan Perdana Menteri Inggris, Margareth Hilda Thatcher, pernah mengunjungi Indonesia pada April 1985. Itulah kunjungan pertama Thatcher ke Tanah Air dan ia menyesal karena hanya bertamu dalam waktu sangat singkat. Dikutip harian Kompas pada awal April 1985, kunjungan Thatcher selama tiga hari mulai Selasa (9/4/1985) bertujuan untuk mempererat kerja sama kedua negara. Dalam kunjungannya, ia sempat berkeliling Taman Mini Indonesia Indah dengan diantar oleh Presiden RI. Perdana Menteri wanita terlama di Inggris dan disegani pemimpin-pemimpin di dunia itu pun memiliki julukan tidak kalah istimewa Iron Lady atau Wanita Besi. Julukan itu disematkan karena ketegasannya dan berani dalam mengambil keputusan dalam hubungan internasionalnya. Pada kenyataannya, Margareth Thatcher cukup menyesali hanya beberap hari berkunjung ke Indonesia. Pak Harto sendiri banyak menebar senyum pada saat berdialog dengan Margareth Thatcher. Barangkali senyum itulah yang membuat Sang Iron Lady “kesengsem” dengan Presiden Soeharto.
Memang Indonesia di bawah kepimimpinan Pak Harto, tidak pernah terlihat meledak-ledak. Dalam setiap kesempatan berpidato di berbagai kunjungan bilateral dan forum-forum dunia, Pak Harto selalu tampil menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun sebenarnya fasih berbahasa Inggris. Indonesia pernah menjadi Ketua OKI (Organisasi negara-negara Islam) dan Ketua OPEC (Organisasi negara-negara pengekspor minyak). Penghargaan di bidang kependudukan, kesehatan, pendidikan dan pangan pernah diterima Presiden Soeharto. Semua itu menunjukkan prestasi tinggi dalam kepemimpinan Presiden Soeharto. Sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara “Macan Asia Baru”, berdampingan Korea Selatan dan Jepang.
Presiden Soeharto juga menginisiasi berdirinya ASEAN. Berdirinya ASEAN pada tanggal 8 Agustus 1967 didasarkan pada penandatanganan Deklarasi Bangkok (atau Deklarasi ASEAN). Dokumen ini disahkan oleh lima Menteri Luar Negeri dari negara-negara pendiri, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Perjanjian bersejarah ini dirumuskan di Bangkok, Thailand, dan menetapkan tujuan utama pembentukan organisasi untuk Pertumbuhan Ekonomi: Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan perkembangan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara. Stabilitas Regional: Meningkatkan perdamaian dan stabilitas kawasan dengan menghormati keadilan dan supremasi hukum. Kerja Sama: Mempromosikan kerja sama aktif dan saling membantu dalam bidang kepentingan bersama (ekonomi, sosial, teknik, dan ilmu pengetahuan).
Golf dan Mancing, Ikon Penakluk
Tidak hanya persoalan hubungan bilateral dan multilateral yang dilakukan Pak Harto. Peristiwa ikonik aktor laga Sylvester Stallone bermain golf dengan Presiden Soeharto terjadi pada Jumat pagi, 21 Oktober 1994, di Lapangan Golf Rawamangun, Jakarta Timur. Dalam pertandingan santai sembilan hole tersebut, Pak Harto berhasil memenangkan permainan dan Stallone memuji kemampuan golf Pak Harto. Tanpa direncanakan sebelumnya, Pak Harto yang saat itu berusia 73 tahun langsung menantang Stallone (yang berusia 48 tahun) untuk bermain golf di Lapangan Golf Rawamangun.
Meski usianya terpaut jauh lebih tua, Pak Harto sukses mengungguli sang pemeran Rambo tersebut. Seusai pertandingan, Stallone mengakui kehebatan Soeharto dengan memuji, “Sungguh saya sudah bermain baik. Tapi dia (Soeharto) bermain lebih baik,” ujar Stallone, yang terkenal dengan sekuel film action nerjudul “Rambo”. Film yang menggambarkan bagaimana perkasanya jagoan Amerika Serikat dalam berhadapan kelompok-kelompok bersenjata di berbagai negara dunia.
Pada kesempatan lain, Presiden Soeharto pernah mengajak Kanselir Jerman Helmut Kohl memancing bersama di perairan Pulau Bira, Kepulauan Seribu pada Oktober 1996. Momen santai ini menjadi ajang diplomasi informal yang memperlihatkan keakraban kedua pemimpin negara tersebut di tengah-tengah kunjungan kerja kenegaraan. Jerman seperti diketahui merupakan salah satu negara adidaya di Benua Eropa, yang disegani negara-negara lain.
Menilik berbagai peristiwa di atas menunjukkan pola interaksi beragam yang dilakukan Presiden Soeharto dalam menghadapi tokoh-tokoh dunia. Hal itu terbangun dari pengalaman Pak Harto selama mengikuti berbagai pertempuran sejak tahun 1944 di Kota Baru Yogyakarta, Pertempuran Ambarawa, Semarang, Serangan Umum 1 Maret 1949. Operasi Mandala Pembebasan Irian Barat, mengatasi gejolak politik akibat G. 30 S 1965/PKI dan menjadi Presiden ke-2 sejak 1967-1998, yang membawa Indonesia pada kejayaannya. Saat Pak Harto telah wafat, meninggal negara dan bangsa yang dicintainya pada hari Minggu, 27 Januari 2008. Beliau wafat pada pukul 13.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta Selatan dalam usia 87 tahun. Al Fatihah, semoga amal bhakti, soleh dan ibadah Pak Harto, diterima Allah Subhanahu Wataala dan segala khilafnya mendapat ampunan. Aamiin. (BAKARUDIN AK)
Catatan Penulis :

Penulis dan Pengamat sosial, biografi, ekonomi desa, dan opini terkait isu energi
============
Channel8.co.id adalah platform digital media on line. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis/bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi.





