Channel8.co.id, Jakarta – Buat kamu yang pegang saham atau reksadana saham: Senin kemarin (12/10) mungkin hari yang bikin manyun. Indeks Harga Saham Gabungan — IHSG, angka yang mencerminkan pergerakan seluruh saham di Bursa Efek Indonesia — anjlok 2,59% dan ditutup di level 5.936,14.
Angka 2,59% itu setara minus 157,61 poin. Dan yang bikin ramai: IHSG resmi terlempar dari level psikologis 6.000. Menurut laporan beberapa media, ini penutupan terendah dalam sekitar tiga bulan terakhir.
Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung. “Level psikologis” itu maksudnya apa? Sederhananya: angka bulat seperti 6.000 itu bukan angka sakti — tapi banyak investor memperlakukannya sebagai “batas mental”. Selama di atas 6.000, pasar dianggap masih oke. Begitu jebol ke bawah, kepanikan ikut naik. Psikologi, bukan fisika.
Padahal paginya sempat cerah. IHSG dibuka di 6.109,31, sempat naik ke 6.128,72 — lalu berbalik arah dan terus merosot sampai titik terendah 5.917,39. Dari 600-an saham yang melemah berbanding 114 yang menguat, jelas ini hari yang didominasi aksi jual. Nilai transaksinya Rp13,73 triliun.
Terus, siapa yang paling bikin indeks merah? Menurut Bloomberg Technoz, pemberat utamanya adalah saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu — terutama DSSA dan BREN yang ambles 11,48%. Saham CUAN juga terkoreksi hampir 15% ke Rp655, dan BUMI melemah 8,33%. Sementara itu, GOTO jadi saham paling ramai diperdagangkan: volumenya sekitar 28 miliar saham.
Lalu, kenapa pasar bisa semerah ini? Analis Phintraco Sekuritas (dikutip Bloomberg Technoz) menyebut beberapa pemicu: (1) Ketidakpastian pasar global — termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Riset BRI Danareksa bahkan menyoroti serangan Houthi Yaman ke Riyadh yang dikhawatirkan menyeret eskalasi lebih luas. (2) Minyak Brent bertahan di atas US$105 per barel — minyak mahal bikin biaya produksi naik di mana-mana. (3) Kekhawatiran capital outflow — capital outflow itu sederhananya: dana investor asing yang keluar dari pasar Indonesia, dalam hal ini dari pasar obligasi. (4) Rupiah melemah 0,11% ke Rp17.903 per dolar AS, plus isu seputar MSCI.
Masalahnya, persoalannya ternyata nggak sesederhana itu. Analis teknikal memprediksi IHSG masih akan menguji level 5.800–5.900 (Phintraco Sekuritas), bahkan berpotensi menuju support 5.840 (Panin Sekuritas). Support itu, sederhananya, level harga di mana penurunan diperkirakan berhenti — tapi namanya perkiraan, bisa jebol juga.
Sederhananya, maksudnya begini: pasar saham itu cermin suasana hati investor, dan Senin kemarin suasana hatinya lagi buruk — kombinasi kabar global yang nggak enak dan aksi jual saham-saham besar. Buat investor ritel seperti kita, pelajarannya klasik tapi tetap berlaku: jangan panik karena satu hari merah, tapi jangan juga tutup mata kalau trennya berlanjut. Dan seperti biasa: ini bukan saran beli atau jual, ya — ini berita, bukan rekomendasi investasi.(RedaksiC8)
Views: 2






