Human

“Kalau Dilanjutkan Percuma”: Relawan Tanjung Puting Angkat Tangan, Surati Presiden Minta Water Bombing

×

“Kalau Dilanjutkan Percuma”: Relawan Tanjung Puting Angkat Tangan, Surati Presiden Minta Water Bombing

Sebarkan artikel ini
ilustrasi AI : Fighting Flames in the Rainforest

Channel8.co.id. Kotawaringin – Ada momen ketika orang yang paling gigih berjuang akhirnya berkata: “kami menyerah — tolong.” Minggu kemarin (11/10), momen itu datang dari Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Relawan gabungan dari YOHK (Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan) dan HPI Kotawaringin Barat memutuskan menarik sementara personel pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Bukan karena mereka tak peduli. Justru sebaliknya — karena setelah berhari-hari berjibaku di lapangan, mereka menilai perjuangan itu tak membuahkan hasil yang signifikan.

Seorang perwakilan relawan (disebut Moncos dalam pemberitaan) berkata blak-blakan: “kalau dilanjutkan percuma, tidak ada perubahan signifikan.” Kalimat yang pedih — tapi jujur.

Yang bikin kisah ini makin menyentuh: sebagian besar relawan ini bukan petugas profesional. Mereka adalah pelaku usaha wisata lokal Tanjung Puting — orang-orang yang hidupnya bergantung pada hutan yang sekarang terbakar. Mereka memadamkan api di “rumah” mereka sendiri, dengan peralatan seadanya, sampai akhirnya mengakui butuh bantuan yang lebih besar.

Maka mereka melakukan satu hal: menulis surat terbuka kepada Presiden. Surat yang beredar Minggu (11/10) itu mendesak tiga hal: pengerahan water bombing (pemadaman dari udara dengan helikopter/pesawat yang menjatuhkan air), anggaran darurat, dan logistik yang memadai.

Surat itu dijawab. Rapat Senin malam (12/10) menetapkan Tanjung Puting menjadi perhatian khusus, dengan 200 pompa air dan Rp2 miliar untuk 200 titik bor air, serta percepatan polisi hutan. Kutipan Presiden Prabowo dari siaran pers Setpres: “Taman Nasional Tanjung Puting menjadi perhatian karena itu taman nasional.”

Nah, soal water bombing, ada hal yang perlu diluruskan: water bombing bukan belum pernah dikerahkan sama sekali. Menurut Kementerian Kehutanan, Balai Taman Nasional Tanjung Puting sudah mengajukan permohonan sejak 9 September 2026. Operasi water bombing berjalan 20–22 September, dan sekitar 574 ribu liter air sudah dijatuhkan hingga 10 Oktober. Kendalanya, menurut Kepala BNPB Suharyanto: asap yang pekat membuat operasi helikopter berbahaya — pilot tak bisa melihat dengan jelas. Jadi bukan soal tak mau, tapi soal tak bisa terbang aman. Operasi udara dikombinasikan dengan modifikasi cuaca.

Menurut Kepala BNPB, luas terbakar di Tanjung Puting tercatat 513,89 hektare. Secara nasional, operasi pemadaman menangani total sekitar 129.260 hektare di enam provinsi prioritas, tersisa 639,23 hektare. Rencana 70.000 polisi hutan juga diulang dalam penanganan ini. Jangan pakai estimasi relawan “54 ribu hektare” sebagai fakta — angka itu ditahan redaksi karena bertentangan dengan data resmi.

Sederhananya, maksudnya begini: ini bukan cerita tentang relawan yang “menyerah” dalam arti putus asa. Ini cerita tentang orang-orang biasa yang sudah memberikan segalanya, lalu dengan berani mengakui bahwa masalah ini lebih besar dari kemampuan mereka — dan meminta negara hadir dengan alat yang mereka tak punya.

Guys, Tanjung Puting bukan hutan biasa. Ini rumah bagi orangutan — satwa yang jadi ikon Indonesia di mata dunia. Setiap hektare yang terbakar di sana bukan cuma soal asap yang sampai ke kota-kota, tapi soal habitat yang butuh puluhan tahun untuk pulih. Surat terbuka itu, pada dasarnya, adalah jeritan: tolong, sebelum semuanya terlambat. Dan kali ini, jeritan itu dijawab.(Redaksi C8)

Views: 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *