Channel8.co.id | Human
Pekan ini kita kehilangan empat petugas di Bromo — gugur di tengah kobaran api. Tapi ada satu kepergian lain yang nyaris tak terdengar: seorang relawan pemadam yang tumbang bukan di garis api, melainkan di rumahnya sendiri.
Namanya disebut berinisial RY. Usianya 40 tahun. Sehari-hari ia aparatur sipil negara berstatus PPPK di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah — dan di luar jam kerja, ia relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan.
Kamis (15/10) sekitar pukul 15.00 WIB, RY mengembuskan napas terakhir di Instalasi Gawat Darurat RSUD Jaraga Sasameh, Buntok. Kronologinya, menurut Kepala Pelaksana BPBD Barito Selatan Agus In’Yulius: RY mengalami sesak napas sepulang bekerja. Ia memutuskan pulang ke rumah di Jalan Ibunda VI, Buntok. Tapi di rumah, kondisinya justru memburuk. Keluarga melarikannya ke rumah sakit.
Di IGD, tim medis menemukan gangguan pada paru-paru dan jantungnya, kata Kepala Dinas Kesehatan Barito Selatan dr Dadang Baskoro Nugroho. Penanganan berlangsung dua hingga tiga jam — termasuk pemasangan alat bantu napas (intubasi). Nyawanya tak tertolong. Ia diduga mengalami pneumonia, radang paru-paru.
Yang membuat kisah ini getir: saat kejadian, RY tidak sedang bertugas memadamkan api. Ia tumbang setelah shift, di rumah, di tengah wilayah yang sudah berhari-hari diselimuti kabut asap. Kepala BPBD-nya sendiri menduga ada kaitan: “Ini diduga memang ada hubungannya dengan kondisi atau kualitas udara yang terjadi di Barsel,” kata Agus, Sabtu (17/10).

Tapi — dan ini penting — hubungan langsung antara paparan asap dan kematiannya belum dipastikan secara medis. Masih perlu penjelasan medis lebih lanjut. Kami menulis fakta ini apa adanya, tanpa menyimpulkan yang belum pasti.
Buat yang belum familiar: PPPK itu Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja — ASN non-PNS dengan kontrak. RY adalah abdi negara sekaligus relawan: orang yang memilih turun ke lapangan menghadapi api, tanpa sorotan kamera.
Jenazahnya dimakamkan di Kelurahan Pendang, Kecamatan Dusun Utara, Barito Selatan. Ia meninggalkan pertanyaan yang belum terjawab: berapa banyak “RY” lain yang menghirup udara yang sama setiap hari, tanpa pernah tercatat sebagai korban karhutla?

Data Dinas Kesehatan Barito Selatan mencatat tujuh kematian akibat pneumonia selama Agustus hingga Oktober 2026. Sebelum RY, seorang bayi berusia enam bulan dilaporkan menjadi korban di tengah kabut asap Barsel. Angka-angka itu mungkin tak akan pernah masuk statistik resmi “korban karhutla”. Tapi bagi keluarga yang ditinggalkan, asapnya nyata — dan kehilangannya juga nyata.
Empat petugas gugur di Bromo pekan ini. RY menyusul dua hari kemudian, tanpa api di sekitarnya. Karhutla tidak hanya membunuh lewat kobaran — kadang ia bekerja pelan-pelan, lewat udara yang dihirup setiap hari. (Redaksi C8)
Views: 1






