Ringkasan tulisan: Indeks Harga Saham Gabungan naik 4,90 persen dalam sepekan perdagangan 19–23 Oktober 2026 ke level 5.439,258 — tertinggi dibanding bursa global sepekan itu — padahal investor asing justru mencatat jual bersih. Ini penting karena kenaikan indeks dan arah uang asing bisa berjalan berlawanan, dan memahami siapa yang membeli di balik kenaikan itu membantu kita tidak salah membaca sinyal pasar.
Channel8.co.id, Jakarta, — Pertanyaan ini wajar muncul setiap kali kabar pasar saham dibaca sekilas: kalau investor asing saja menjual, kok indeksnya malah naik? Sepekan perdagangan 19–23 Oktober 2026 memberi contoh yang paling gamblang — dan jawabannya dimulai dari memahami apa sebenarnya yang diukur oleh angka itu.
Sederhananya, begini. IHSG — Indeks Harga Saham Gabungan — adalah angka yang merangkum pergerakan harga seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kalau IHSG naik, artinya secara gabungan harga saham-saham itu menguat. Pada Jumat, 23 Oktober 2026, IHSG ditutup di level 5.439,258, naik 4,90 persen dari penutupan pekan sebelumnya di 5.185,105. Perjalanannya pun tidak mulus: indeks sempat menyentuh 4.907 pada Senin, lalu memantul empat hari berturut-turut hingga akhir pekan.
Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung: siapa yang membeli, kalau asing menjual? Data BEI yang dikutip sejumlah media memberi potretnya. Rata-rata nilai transaksi harian naik 25,42 persen menjadi Rp20,34 triliun, dari Rp16,22 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata frekuensi perdagangan harian naik 13,80 persen menjadi 1,95 juta kali transaksi, dari 1,72 juta kali. Kapitalisasi pasar — sederhananya, total nilai pasar seluruh saham yang tercatat — naik 4,66 persen menjadi Rp9.583 triliun, dari Rp9.157 triliun. Yang turun justru rata-rata volume transaksi harian, sebesar 9,39 persen menjadi 39,96 miliar saham.
Di sisi lain, investor asing memang masih menjual. Pada perdagangan Jumat, 23 Oktober saja, investor asing mencatat jual bersih Rp1,28 triliun — istilah net foreign sell, yang artinya nilai jual investor asing lebih besar daripada nilai belinya. Secara kumulatif sepanjang 2026, nilai jual bersih investor asing di pasar saham domestik mencapai Rp94,87 triliun.
Lalu, siapa yang menahan pasar tetap naik? Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi memberi jawabannya: kekuatan domestik. “Alhamdulillah market kita sudah rebound. Ini kekuatan domestik, karena asing masih net sale. Jadi ini kekuatan domestik yang melakukan buyback dan investor retail kita yang juga luar biasa,” katanya, seperti ditulis Minggu, 25 Oktober 2026. Buyback itu, sederhananya, aksi perusahaan membeli kembali sahamnya sendiri yang beredar di pasar — dan bersama investor ritel dalam negeri, aksi itulah yang menjadi penopang saat asing melepas sahamnya.
Konteks yang membuat asing menjual juga perlu dipahami. Penguatan IHSG ini terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI. MSCI itu penyedia indeks acuan global yang dipakai banyak investor asing sebagai patokan — kalau klasifikasinya berubah, dana yang mengikuti indeks tersebut bisa ikut bergeser. Di tengah sentimen itu, BRI Danareksa Sekuritas bahkan memangkas target IHSG untuk Desember 2026 menjadi 6.000, meski masih memperkirakan indeks berpotensi pulih menuju 7.600 pada akhir 2027. Angka-angka itu adalah proyeksi sekuritas, bukan janji — dan penting dibaca sebagai proyeksi, bukan kepastian.
Sebagai perbandingan, kenaikan 4,9 persen IHSG sepekan itu menempati posisi teratas dalam perbandingan kinerja indeks saham global periode yang sama, menurut data BEI yang dikutip Investor Daily. Di Asia Tenggara, VN-Index Vietnam naik 2,2 persen, bursa Malaysia menguat 0,2 persen, dan Straits Times Singapura bertambah 0,1 persen — sementara bursa Thailand turun 0,6 persen dan Filipina melemah 0,9 persen. Di Asia Timur, Nikkei Jepang melemah 4 persen dan Hang Seng Hong Kong anjlok 4,5 persen. Rupiah sendiri, sebagai catatan, masih tertahan di atas Rp18.000 per dolar AS.
Jadi, jawaban atas pertanyaan di judul: indeks bisa naik saat asing menjual, karena pasar tidak hanya digerakkan asing. Selama sepekan itu, pembeli domestik — lewat buyback emiten dan investor ritel — lebih kuat daripada penjual asing. Tapi ingat juga: naik sepekan bukan jaminan naik terus. Senin adalah perdagangan berikutnya, dan sentimen MSCI itu belum hilang. Artikel ini adalah penjelasan, bukan rekomendasi beli atau jual — supaya kamu membaca kabar pasar dengan kepala dingin, bukan sekadar ikut euforia angka hijau. (redaksi C8)
Views: 0






