Umang, Tukang Cukur Keluarga Cendana yang Membuat Soeharto Tampil Lebih Handsome
Ringkasan : Dari ruang pribadi keluarga Presiden hingga perjalanan ke luar negeri, Umang Pradana Suweli menyimpan kisah-kisah sederhana tentang Pak Harto dan Ibu Tien. Ada cerita tentang potongan rambut, setrika yang membakar kain, hingga ketakutannya pada jarum suntik.
Ada satu hal menarik dari kehidupan seorang presiden yang jarang masuk ke dalam buku-buku sejarah: siapa orang yang merapikan rambutnya?
Bagi sebagian orang, urusan potong rambut mungkin hanya rutinitas biasa. Datang ke tempat pangkas, duduk sebentar, rambut dirapikan, lalu pulang. Namun, bagi Umang Pradana Suweli, pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Umang bukan pejabat, bukan pula orang yang berada di lingkaran pengambil kebijakan negara. Ia adalah seorang penata rambut yang bekerja di lingkungan keluarga Presiden Soeharto. Dari pekerjaannya yang sederhana itu, ia justru memperoleh kesempatan menyaksikan sisi keseharian keluarga Cendana dari jarak yang tidak banyak dimiliki orang.
Kisahnya terangkum dalam buku Pak Harto: The Untold Stories, terbitan Gramedia Pustaka Utama pada 2011. Dalam tulisan berjudul Agar Bapak Semakin Handsome, Umang menceritakan pengalaman yang mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan kenangan mendalam tentang sosok Pak Harto dan Ibu Tien.
Berawal dari guntingan rambut Mas Indra (Suami Mbak Tutut)
Semuanya bermula dari sebuah kejadian kecil.
Suatu hari, Soeharto memperhatikan hasil guntingan rambut menantunya, Indra Rukmana. Ia kemudian bertanya kepada Tutut, putri sulungnya, siapa yang memotong rambut Indra.
Jawabannya adalah Umang.
Saat itu, Umang bekerja sebagai penata rambut Ibu Tien Soeharto dan ketiga putrinya: Tutut, Titièk, dan Mamiek.
Percakapan sederhana tersebut ternyata membuka kesempatan baru bagi Umang.
Soeharto kemudian bertanya apakah Umang bersedia memotong rambutnya juga.
Bagi Umang, pertanyaan itu tentu bukan perkara biasa. Ia masih berusia sekitar 28 tahun ketika mendapat kepercayaan tersebut. Ada rasa bangga, tetapi juga kegugupan yang sulit disembunyikan.
Sebelum mulai bekerja, Soeharto menanyakan bagaimana kebiasaan Umang ketika memotong rambut Mas Indra.
Umang menjelaskan prosedurnya: rambut dicuci terlebih dahulu, dikeringkan dengan handuk, kemudian dipotong.
Soeharto menyetujui cara tersebut.
Maka dimulailah pengalaman baru seorang penata rambut muda yang harus berhadapan langsung dengan kepala negara.
Tangan gemetar di hadapan Presiden
Mencuci rambut seseorang mungkin pekerjaan yang biasa bagi seorang penata rambut. Namun, situasinya tentu berbeda ketika orang yang duduk di hadapannya adalah Presiden Republik Indonesia.
Umang mengaku sangat berhati-hati ketika mencuci rambut Soeharto. Ia berusaha agar air tidak sampai membasahi kemeja yang digunakan Presiden.
Tetapi, sesuatu yang dikhawatirkannya akhirnya terjadi.
Air cucian rambut meluncur dan membasahi kemeja.
Umang langsung merasa gugup. Ia bahkan mengaku tubuhnya gemetaran ketika berusaha mengeringkan bagian atas tubuh Soeharto yang terkena air.
Dalam situasi seperti itu, ia mungkin membayangkan kesalahan kecil tersebut akan membuat dirinya tidak dipercaya lagi.
Namun, respons Soeharto justru di luar dugaan.
“Tidak apa-apa, saya tahu kamu grogi,” kata Soeharto, seperti dikenang Umang dalam bukunya.
Kalimat pendek itu membuat suasana menjadi berbeda.
Umang tidak dimarahi. Bahkan, setelah kejadian tersebut, Soeharto justru beberapa kali kembali meminta dirinya untuk memotong rambut.
Bagi Umang, kepercayaan itu tentu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Rahasia kecil di belakang leher
Ada hal unik yang kemudian diketahui Umang dari kebiasaan potong rambut Soeharto.
Presiden menginginkan rambutnya selalu terlihat rapi, tetapi tidak terlalu pendek seperti potongan rambut tentara.
Bagian bawah kepala, terutama rambut di sekitar tengkuk atau leher belakang, tidak boleh dipotong terlalu habis. Rambut di bagian itu harus dibiarkan sedikit lebih panjang, beberapa sentimeter.
Umang kemudian memperhatikan bahwa rambut Soeharto di bagian belakang leher memiliki sedikit gelombang.
Detail kecil tersebut menjadi ciri tersendiri dalam penampilan Soeharto.
Dari pengalaman itu, Umang memahami bahwa pekerjaan menata rambut bukan hanya soal memotong sesuai ukuran. Ada kebiasaan, kenyamanan, dan karakter seseorang yang harus diperhatikan.
Barangkali itulah alasan mengapa Soeharto merasa cocok dengan hasil pekerjaannya.
Bahkan, judul yang dipilih Umang untuk mengenang pengalaman tersebut terasa ringan sekaligus mengundang senyum: Agar Bapak Semakin Handsome.
Ketika setrika membuat semua orang panik
Kenangan Umang tidak hanya berkaitan dengan urusan rambut.
Dalam perjalanan dinas ke Eropa, menjelang sebuah jamuan makan malam, Umang pernah menawarkan diri membantu pekerjaan ajudan Ibu Tien. Ia berniat menyetrika selendang chiffon milik Ibu Negara.
Niatnya sederhana: meringankan pekerjaan orang lain.
Namun, Umang ternyata tidak mengetahui bahwa kain chiffon yang sangat halus membutuhkan suhu setrika rendah.
Ketika setrika diangkat, bagian selendang yang terkena panas justru menempel pada permukaan bawah setrika. Kain itu pun rusak.
Umang panik. Ia tidak berani melanjutkan pekerjaan menyetrika karena takut membuat kerusakan yang lebih besar.
Pekerjaan tersebut kemudian dilanjutkan oleh Sri Mumpuni, ajudan Ibu Tien.
Masalah ternyata belum selesai.
Ketika menyetrika kemeja putih yang akan dikenakan Soeharto malam itu, ada bagian kain yang menempel pada dasar setrika. Akibatnya, warna hijau dari kemeja yang terkena panas berpindah ke bagian dada.
Bayangkan situasinya: sebuah kemeja putih yang disiapkan untuk dikenakan Presiden justru terkena noda berwarna hijau.
Namun, menurut cerita Umang, Soeharto dan Ibu Tien tidak marah. Mereka hanya menegur agar kesalahan tersebut menjadi pelajaran.
Sebuah kejadian kecil yang memperlihatkan bahwa di balik pekerjaan yang tampak sederhana, ada tanggung jawab besar yang harus dijalankan.
Takut jarum suntik di tengah perjalanan Afrika
Ada lagi cerita Umang yang memperlihatkan sisi lain dirinya: ketakutannya terhadap jarum suntik.
Dalam salah satu perjalanan rombongan Presiden ke Afrika, Umang mengisahkan adanya pemeriksaan dan penyuntikan kesehatan bagi anggota rombongan.
Ia sebenarnya sangat takut disuntik.
Ketika seorang dokter bertanya apakah dirinya sudah disuntik, Umang mengaku sudah, bahkan menyebut nama dokter lain. Ia berharap bisa terhindar dari jarum suntik.
Tetapi, keberuntungan tidak selalu berpihak kepadanya.
Di sela-sela persiapan acara ketika rombongan berada di hotel, Soeharto kembali menanyakan apakah Umang sudah disuntik.
Kali ini Umang memilih menjawab jujur.
“Belum, Pak.”
Ibu Tien kemudian mengatakan bahwa dokter akan datang untuk menyuntiknya.
Umang tidak bisa lagi menghindar.
Namun, menurut penuturannya, ketika dokter datang, persediaan serum sudah habis karena banyak staf KBRI yang juga meminta penyuntikan.
Umang pun lolos dari pengalaman yang paling ditakutinya. Kisah ini disampaikan sebagai kenangan pribadi Umang dalam buku tersebut.
Lebih dari sekadar penata rambut
Umang Pradana Suweli lahir pada 10 Maret 1949. Ia mulai bekerja di lingkungan keluarga Presiden Soeharto pada dekade 1970-an.
Dalam keterangan profilnya di buku Pak Harto: The Untold Stories, Umang dikenal sebagai sosok humoris. Ia memiliki pandangan hidup bahwa manusia seharusnya memahami tujuan hidupnya dan menyadari bahwa orang lainlah yang membutuhkan kehadiran kita, bukan sebaliknya.
Baginya, bekerja juga harus disertai pengorbanan, pengabdian yang tulus, dan loyalitas.
Nilai-nilai tersebut bukan sekadar kalimat indah. Umang menggambarkannya melalui pengalaman panjang bekerja di lingkungan keluarga Soeharto.
Hingga buku tersebut diterbitkan pada 2011, ia masih mengabdi kepada keluarga Ibu Siti Hardiyanti Rukmana.
Di bagian akhir kisahnya, Umang mengungkapkan bahwa dirinya masih sering merindukan Soeharto dan Ibu Tien. Kenangan masa lalu itu, tulisnya, masih kerap melintas dalam ingatan.
Sejarah juga hidup dalam cerita sederhana
Kisah Umang mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu hadir melalui pidato kenegaraan, keputusan politik, atau peristiwa besar yang mengubah arah bangsa.
Sejarah juga tersimpan dalam ruang-ruang kecil kehidupan sehari-hari.
Di balik penampilan seorang presiden, ada orang yang mencuci, mengeringkan, dan merapikan rambutnya. Di balik sebuah jamuan kenegaraan, ada staf yang bekerja memastikan semuanya berjalan baik. Bahkan, ada pula kesalahan kecil yang kemudian menjadi kenangan sepanjang hidup.
Umang mungkin tidak pernah berdiri di podium kenegaraan atau menjadi bagian dari keputusan penting pemerintahan. Namun, melalui pekerjaannya, ia memiliki cerita yang memperlihatkan sisi lain kehidupan keluarga Presiden Soeharto.
Dari tangan seorang penata rambut, kita mengenal sebuah fragmen sejarah yang terasa lebih dekat dan manusiawi.
Sebab, terkadang, untuk memahami masa lalu, kita tidak hanya perlu melihat orang-orang yang berada di panggung utama.
Kita juga perlu mendengarkan cerita mereka yang bekerja di belakang layar. (koni)
Catatan Tulisan :

Umang Pradana Suweli
Artikel ini disusun berdasarkan kesaksian Umang Pradana Suweli dalam buku Pak Harto: The Untold Stories, Bab 6, “Kenangan dari Keseharian yang Bersahaja”, bagian “Agar Bapak Semakin Handsome”, halaman 466–469. Kisah percakapan, pengalaman pribadi, dan penilaian terhadap Soeharto menurut penuturan Umang Pradana Suweli.
Views: 6






