Ringkasan tulisan: Tim gabungan menggagalkan penyelundupan 1,16 ton ketamin yang disembunyikan di ruang pompa kapal tanker MT Global 168 di perairan Sumatera Utara. Seorang WNA Taiwan berinisial YCY — manajer kapal yang diduga sebagai pengendali — ditetapkan sebagai tersangka, sementara tujuh awak WNI masih berstatus saksi. Kapolri menyebut pengungkapan hasil operasi senyap tiga bulan ini sebagai “kado terindah” dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran; penting buat kita karena jalur laut Indonesia makin jadi incaran jaringan narkoba lintas negara.
Channel8.co.id, Belawan, sebuah kapal tanker raksasa melintasi Selat Malaka dengan tenang. Dari luar, tidak ada yang aneh. Tapi di perutnya — tepatnya di ruang pompa kapal — tersembunyi 58 karung berwarna hijau. Isinya: 1.160 bungkus ketamin, masing-masing seberat satu kilogram. Total 1,16 ton.
Kapal itu bernama MT Global 168. Dan Jumat (23/10), Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto — yang juga menjabat Kepala BNN — berdiri di Pelabuhan Belawan untuk mengumumkan: penyelundupan itu berhasil digagalkan.
Ceritanya dimulai Selasa (20/10) sekitar pukul 03.05 WIB. Tim gabungan — Bareskrim Polri, BNN, Bea Cukai, Polairud, dan Polda Sumut — mencegat kapal tersebut di perairan Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara, dengan kapal patroli BC 20006 dan KP Murai. Kapal lalu dikawal menuju Belawan dan tiba Rabu (21/10) sekitar pukul 12.00 WIB.
Nah, di sini bagian yang sering bikin orang penasaran: kok bisa tahu ada narkoba di kapal itu?
Jawabannya: kapal ini sudah dipantau sejak Agustus 2026. Kata Kapolri, menganalisa sebuah kapal itu nggak sebentar — bisa tiga sampai enam bulan. Petunjuk awalnya datang dari AIS, semacam GPS wajib yang harus dinyalakan kapal-kapal besar agar posisinya terlacak. MT Global 168 menunjukkan anomali: gerakannya lambat, berputar-putar di perairan barat Thailand, lalu berlabuh di kawasan Laut Andaman. Pola seperti itu, kata polisi, mengindikasikan rencana ship-to-ship — istilah untuk pemindahan muatan dari satu kapal ke kapal lain di tengah laut, jauh dari pengawasan pelabuhan. Ditambah lagi, para penyelundup diduga memakai modus klasik: mengganti nama kapal dan mematikan AIS.
Sederhananya: mereka berusaha menjadi “kapal hantu”. Tapi jejak digitalnya ketahuan juga.

Dari delapan awak yang diamankan — tujuh warga negara Indonesia dan satu warga negara Taiwan — penyidik menetapkan satu tersangka: WNA Taiwan berinisial YCY (42), yang disebut sebagai manajer kapal. Ia diduga berperan sebagai pengendali pengiriman barang haram itu. Tujuh awak WNI masih berstatus saksi dan keterlibatannya masih didalami.
Nilai barang bukti ditaksir mencapai Rp3,48 triliun — angka resmi yang disampaikan Kapolri dalam konpers Jumat (23/10), dihitung dengan asumsi harga pasar gelap Rp3 juta per gram. Selain ketamin, penyidik menyita satu unit kapal tankernya sekalian, 14 alat komunikasi, dan sejumlah perlengkapan kapal lainnya.
YCY dijerat Pasal 435 UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan jo Lampiran 1 No. 181 UU No. 1 Tahun 2026, dengan ancaman penjara paling lama 12 tahun atau denda kategori VI — sekitar Rp2 miliar. Buat yang belum familiar: ketamin itu sebenarnya obat anestesi — dipakai di dunia medis dan kedokteran hewan. Masalahnya, zat ini disalahgunakan sebagai narkotika karena efek halusinasi dan “melayang”-nya. Itu sebabnya penyelundupan ketamin dalam jumlah jumbo begini dianggap serius.
Kapolri menegaskan pengungkapan ini bukan kerja satu lembaga. “Ini bukan kerja Polri saja. Ini kerja bersama Bareskrim, BNN, Bea Cukai, Polairud, dan Polda Sumut,” katanya. Ia juga menyampaikan pesan yang cukup tegas soal strategi ke depan: “Pesan saya jelas: pulihkan pengguna, lumpuhkan bandar. Untuk pengguna, kita rehabilitasi. Tetapi untuk bandar, kita tindak tegas sampai ke jaringannya.”
Ada satu kalimat lain yang membuat berita ini punya bingkai politik. Menurut Kapolri, keberhasilan ini menjadi “kado terindah untuk dua tahun pemerintahan Bapak Prabowo dan Bapak Gibran.”
Kenapa berita ini penting buat kita? Selat Malaka adalah salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia — dan ternyata juga jadi “jalan tikus” favorit jaringan narkoba lintas negara. Bayangkan: 1,16 ton ketamin kalau lolos beredar, korbannya bukan angka statistik. Itu anak-anak muda di kota-kota kita. Operasi ini memenangkan satu babak. Tapi kata penyidik, asal-usul barang, tujuan akhir pengiriman, dan kemungkinan keterlibatan pihak lain masih didalami. Artinya, jaringannya belum tentu putus di Belawan. (Redaksi C8)
Views: 0






