Oleh : Bakarudin AK
Channel8.co.id. – Upacara penghormatan untuk tiga prajurit TNI yang gugur digelar oleh United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Prosesi ini dilaksanakan sebelum jenazah Kapten Inf. Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadon diterbangkan ke Indonesia. Upacara dipimpin langsung oleh Force Commander UNIFIL sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasa dan pengabdian mereka dalam menjaga perdamaian dunia.
Sesuai jadwal, jenazah tiba di Tanah Air pada Sabtu, 4 April 2026, untuk kemudian dimakamkan secara militer.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dalam keterangan resminya menyampaikan, “Telah dilaksanakan upacara pelepasan dan penghormatan jenazah ketiga personel penjaga perdamaian Indonesia tersebut di Bandara Internasional Rafic Hariri, Beirut, Lebanon.”
Presiden Prabowo Subianto turut menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya ketiga prajurit tersebut. Ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan serta memberikan penghormatan atas pengabdian dan pengorbanan para prajurit dalam menjalankan tugas negara.
“Innalillahi wainna ilaihi rajiun, turut berdukacita atas gugurnya Kapten Inf. Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadon saat menjalankan misi perdamaian di Timur Tengah,” tulis Presiden melalui akun Instagram resminya.
Presiden menegaskan bahwa pengabdian para prajurit merupakan wujud dedikasi dan keberanian dalam menjaga perdamaian dunia, sekaligus membawa nama baik Indonesia di kancah internasional.
Keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian dunia merupakan amanat konstitusi, sebagaimana tercantum dalam UUD 1945, bahwa Indonesia ikut serta aktif dalam menjaga ketertiban dunia. Indonesia sendiri merupakan salah satu kontributor terbesar pasukan penjaga perdamaian PBB—menempati peringkat kelima—dengan lebih dari 2.700 personel aktif yang tersebar di delapan misi.
Sejak 1957, Kontingen Garuda (Konga) telah berperan aktif dalam berbagai operasi perdamaian, dengan penugasan utama saat ini berada di Lebanon melalui UNIFIL dan di Republik Afrika Tengah. Pasukan TNI mengemban tugas menjaga stabilitas, melindungi warga sipil, serta menjalankan misi kemanusiaan di wilayah konflik.
Atas pengabdian dan pengorbanannya, ketiga prajurit tersebut akan mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa serta berbagai penghargaan negara. Mereka adalah prajurit muda yang juga menjadi tulang punggung keluarga. Pilihan menjadi prajurit TNI bukan sekadar profesi, tetapi sebuah pengabdian total—bahkan hingga mempertaruhkan nyawa.
Mereka yang gugur di medan tugas adalah putra terbaik bangsa—gugur sebagai “Bunga Bangsa”.
Namun, tragedi ini tidak bisa dilepaskan dari eskalasi konflik yang terus terjadi di wilayah tersebut. UNIFIL mencatat ratusan personel penjaga perdamaian telah menjadi korban dalam konflik yang melibatkan Israel. Dewan Keamanan PBB pun menggelar sidang darurat untuk menyikapi situasi tersebut.
Di tengah kecaman berbagai negara, Israel tetap membantah keterlibatannya. Sikap ini bukan hal baru, mengingat berbagai tuduhan pelanggaran kemanusiaan di Palestina juga kerap tidak diakui. Korban sipil—termasuk perempuan, anak-anak, jurnalis, tenaga medis, dan relawan—terus berjatuhan.
Mahkamah Internasional bahkan telah menjatuhkan putusan terkait dugaan kejahatan perang dan genosida. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, disebut dapat dimintai pertanggungjawaban hukum internasional.
Di sisi lain, dinamika politik global juga memperlihatkan tarik-menarik kepentingan. Amerika Serikat kerap menggunakan hak veto dalam forum PBB, sementara sikap negara-negara Arab dinilai belum sepenuhnya solid dalam merespons konflik tersebut.
Indonesia sendiri tetap konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Bahkan, Indonesia juga menolak kehadiran tim olahraga Israel dalam berbagai ajang internasional yang diselenggarakan di Tanah Air.
Tragedi gugurnya tiga prajurit TNI ini pun memunculkan desakan evaluasi terhadap keikutsertaan Indonesia dalam misi perdamaian di Lebanon. Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, meminta pemerintah meninjau kembali penempatan pasukan TNI di wilayah tersebut.
Menurutnya, menjalankan amanat konstitusi tidak harus mengorbankan keselamatan prajurit. Ia bahkan mendorong penghentian sementara misi hingga jaminan keamanan benar-benar diberikan.
MPR RI juga mengecam keras serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian yang dinilai sebagai pelanggaran serius hukum humaniter internasional. PBB didesak untuk melakukan investigasi menyeluruh serta menjatuhkan sanksi tegas kepada pihak yang bertanggung jawab.
Keselamatan prajurit TNI harus menjadi prioritas utama.
Kini, publik menanti sikap tegas pemerintah. Namun satu hal yang pasti, pengorbanan Kapten Inf. Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadon tidaklah sia-sia.
Mereka gugur dalam tugas mulia—demi perdamaian dan kemanusiaan. Keberanian mereka akan menjadi teladan bagi generasi penerus bangsa.
Selamat jalan, para pahlawan. Semoga seluruh pengabdianmu mendapat rahmat dan berkah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. (BAKARUDIN AK)
Catatan Penulis :

Bakarudin AK
Penulis dan Pengamat, dikenal melalui karya-karya di bidang biografi, ekonomi desa, dan opini terkait isu energi
============






