BeritaFotoHistoria

Lebaran Keluarga Cendana: Sederhana, Hangat, dan Silaturahmi Penuh Canda

×

Lebaran Keluarga Cendana: Sederhana, Hangat, dan Silaturahmi Penuh Canda

Sebarkan artikel ini
Tutut Soeharto, Titiek dan Didit berfoto selfie saat silaturahmi Idul Fitri 1447 H/ 2026 di kediaman Menteng Jakarta. Sabtu 21/03/2026. ( Foto : Koni Bardianto)
LEBARAN 11
lebaran 5a
lebaran 6
lebaran 7
lebaran 4
Tutut dan Sigit Soeharto
Sigit Harjojudanto Sholat Idul Fitri 1447 H/ 2026
IMG_0083

Channel8.co.id – Jakarta. Bagaimana sebenarnya suasana Idul Fitri di keluarga Cendana? Pertanyaan ini kerap muncul di benak masyarakat. Identik dengan nama besar dan sejarah panjang, banyak yang membayangkan perayaan Lebaran mereka penuh kemewahan dan protokoler. Namun potret Idul Fitri 1447 H/2026 justru menghadirkan cerita yang berbeda—lebih hangat, lebih sederhana, dan terasa begitu dekat dengan keseharian masyarakat.

Pagi hari dimulai dengan suasana khidmat di kediaman Siti Hardiyanti Rukmana. Bersama suami Indra Rukmana, anak, cucu, serta keluarga besar, mereka melaksanakan salat Idul Fitri secara berjamaah. Dengan khusyuk mereka melaksanakan ibadah sholat Idul Fitri bersama Putra Putri serta cucu.

Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut Soeharto melaksanakan sholat Idul Fitri 1447 H/ 2026 bersama putra putri dan keluarga serta kerabat di kediaman Menteng Jakarta. Sabtu 21/03/2026 (Foto. Koni Bardianto)

Hal serupa juga dilakukan Sigit Harjojudanto bersama istrinya Ilsye Sigit dan keluarga. Mereka larut dalam suasana pelaksanaan sholat Idul Fitri bersama dengan keluarga dan orang orang terdekat.

Sigit Harjojudanto melaksanakan sholat Idul Fitri 1447 H /2026 bersama dengan keluarga dan kerabat di kediaman Menteng Jakarta. Sabtu 21/03/2026. (Foto ; Koni Bardianto)

Tidak di hotel mewah atau tempat eksklusif, melainkan di rumah sendiri, dengan menghadirkan ustaz dari Masjid Agung At-Tin—suasana yang justru terasa akrab dan membumi.

Di sisi lain, Siti Hediati Hariyadi  atau Titiek Soeharto memilih membaur bersama masyarakat. Ia melaksanakan salat Id di Masjid Agung At-Tin bersama ribuan jamaah, tanpa jarak, tanpa sekat. Pilihan ini seolah menegaskan bahwa momen Lebaran adalah tentang kebersamaan, bukan perbedaan.

Titiek Soeharto melaksanakan sholat Idul Fitri 1447 H/ 2026 di Masjid Agung At Tin Jakarta Timur. Sabtu 21 /03/2026 (Foto : Sri Sugiarti)—

Namun yang paling menarik justru terjadi setelah salat Id. Kediaman Tutut Soeharto menjadi pusat silaturahmi  keluarga. Usai salat Id, suasana hangat berlanjut di kediaman Tutut Soeharto yang menjadi titik kumpul keluarga.

Sigit Harjojudanto bersama keluarga dan adik bungsu Hutomo Mandala Putra—yang akrab disapa Mamiek Soeharto—datang lebih awal. Mereka saling bersalaman, bermaafan, dan berbincang ringan, melebur dalam suasana kekeluargaan yang akrab hangat—tanpa formalitas yang kaku.

Tutut Soeharto memeluk adik tercinta Sigit Harjojudanto saat silaturahmi lebaran kediaman Tutut Soeharto Menteng Jakarta Pusat . Sabtu 21/03/2026. (Foto : Koni Bardianto)
Mamiek Soeharto adik bungsu Siti Hardiyanti Rukmana tampak turut hadir bersama rombongan keluarga Sigit saat silaturahmi Lebaran usai sholat Idul Fitri di kediaman Menteng Jakarta. Sabtu 21/03/2026. (Foto : Koni Bardianto)

Tak lama kemudian, Titiek Soeharto tiba usai salat Id di masjid. Momen kebersamaan semakin lengkap ketika Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo, putra Presiden Prabowo Subianto sekaligus anak Titiek, ikut hadir dan larut dalam suasana silaturahmi serta melengkapi momen kebersamaan lintas generasi.

Tidak ada pengamanan berlebihan, tidak ada jarak sosial yang kaku—yang ada justru canda, tawa, dan obrolan ringan.

Titiek Soeharto memeluk erat Tutut Soeharto kakak tercinta saat silaturahmi kekediaman Tutut usai sholat Idul Fitri di At Tin. Sabtu 21/03/2026. (Foto : Koni Bardianto)
Foto selfie bersama usai silaturahmi Idul Fitri 1447 H/ 2026. Mamiek, Didit, Tutut dan Titiek Soeharto di kediaman Menteng Jakarta . Sabtu 21/ 03/2026. (Foto : Koni Bardianto)

Yang mungkin mengejutkan banyak orang, suasana di dalam jauh dari kesan kemewahan, melainkan kehangatan. Tawa dan canda mengalir tanpa sekat, bahkan dengan para staf dan orang-orang terdekat yang turut hadir.

Tidak ada jarak, tidak ada protokoler yang kaku—semuanya tampak cair, seperti keluarga besar pada umumnya yang merayakan hari kemenangan. Semua duduk bersama, saling menyapa, dan menikmati hidangan Lebaran layaknya keluarga pada umumnya.

Keluarga cendana bersilaturahmi saling menyapa dengan sanak sudara, putra – putri dan cucu-cucu  usai sholat Idul Fitri 1447 H/ 2026. Sabtu 21/03/2026. (Foto : Koni Bardianto)

Potret Lebaran keluarga Cendana ini menghadirkan gambaran yang mungkin tidak jauh berbeda dari masyarakat luas: berkumpul, saling memaafkan, menikmati kebersamaan, dan merayakan hari suci dengan penuh rasa syukur. Justru dalam kesederhanaan itulah, nilai Idul Fitri terasa paling nyata—bahwa pada akhirnya, semua kembali pada makna dasar: keluarga, kehangatan, dan hati yang saling memaafkan.

Lihat Juga : Dari Tarawih hingga Khataman: Tradisi Ramadan Keluarga Cendana Yang Jarang Diketahui Publik

Di sinilah letak sisi menariknya: di balik nama besar keluarga Cendana, perayaan Idul Fitri mereka justru mencerminkan nilai yang sangat sederhana—persis seperti yang dirasakan banyak masyarakat Indonesia. Berkumpul bersama keluarga, saling memaafkan, berbagi cerita, dan menikmati momen tanpa sekat.
Lebaran mereka bukan tentang kemewahan, melainkan tentang kehangatan. Dan mungkin, justru di situlah masyarakat menemukan jawabannya—bahwa pada akhirnya, suasana Idul Fitri, di keluarga mana pun, tetaplah sama: kembali ke hati, kembali ke keluarga. (Koni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *