DelapanPagi

Kriminalitas Meningkat di Indonesia, Pengangguran dan Ekonomi Jadi Sorotan

×

Kriminalitas Meningkat di Indonesia, Pengangguran dan Ekonomi Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini
Kriminalitas Meningkat di Indonesia, Pengangguran dan Ekonomi Jadi Sorotan (AI Imagine)

Oleh : Bakaruddin AK

Channel8.co.id, Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat yang melintasi sejumlah ruas jalan di Jakarta kerap melihat patroli aparat kepolisian menggunakan motor trail secara beriringan, baik siang maupun malam hari. Dengan perlengkapan lengkap—helm, masker hitam, sepatu boot, hingga senjata laras panjang—mereka melakukan patroli untuk memberantas aksi kriminal jalanan, terutama begal, di wilayah hukum Polda Metro Jaya.

Patroli tersebut tidak hanya menyasar pelaku kejahatan jalanan, tetapi juga membubarkan berbagai kerumunan dan aktivitas di sejumlah titik ibu kota pada malam hari. Intinya, aparat berupaya melakukan pencegahan dini terhadap potensi tindak kriminal di jalan raya.

Tidak hanya Polri, TNI juga diterjunkan untuk mendukung pengamanan di berbagai wilayah Jabodetabek. Langkah serupa bahkan dilakukan di sejumlah daerah lain di Indonesia. Di tengah meningkatnya keresahan masyarakat, wacana “tembak di tempat” terhadap pelaku begal pun kembali mencuat. Kondisi keamanan publik beberapa waktu terakhir memang berada dalam situasi yang mengkhawatirkan. Para pelaku kejahatan semakin nekat beraksi, bahkan di siang hari dan di tengah keramaian.

Di Bandar Lampung, seorang anggota polisi gugur saat berupaya menggagalkan pencurian sepeda motor di sebuah minimarket. Ironisnya, nyawa aparat tersebut melayang setelah ditembak pelaku kejahatan.

Belum lama ini, dua minimarket di Jakarta juga dilaporkan menjadi sasaran perampokan saat hendak tutup operasional. Para pelaku masuk melalui rolling door yang belum terkunci sempurna, lalu mengancam pegawai menggunakan senjata tajam dan senjata api agar menyerahkan uang hasil penjualan di brankas maupun laci kasir. Puluhan juta rupiah berhasil digondol. Modus operandi yang digunakan menunjukkan para pelaku telah mempelajari targetnya secara matang sebelum beraksi.

Tren Kriminalitas Mengkhawatirkan

Data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri mencatat, sepanjang 1 Januari hingga 6 November 2025 terdapat 908 kasus pembunuhan yang dilaporkan di Indonesia. Sebagian besar dipicu unsur kesengajaan. Secara umum, tren kriminalitas nasional meningkat sekitar 1,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kekerasan terhadap anak juga naik 2,48 persen, sementara kasus pemerkosaan dan pencabulan terhadap anak melonjak hingga 22,5 persen.

Wilayah dengan tingkat kriminalitas tertinggi pada 2025 antara lain Medan, Jakarta Selatan, dan Palembang. Secara keseluruhan, Pusiknas Bareskrim Polri mencatat sebanyak 414.812 kasus kejahatan terjadi di Indonesia sepanjang 1 Januari hingga 24 Desember 2025.

Khusus kejahatan jalanan, Polda Metro Jaya mencatat terdapat 1.283 laporan kasus di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dari jumlah tersebut, kepolisian mengungkap 127 kasus dan menangkap 173 tersangka dalam periode 1 hingga 22 Mei 2026.

Problematika Ketenagakerjaan

Pertanyaannya, adakah hubungan antara meningkatnya kriminalitas dengan persoalan ekonomi dan pengangguran?

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) per Februari 2026 mencapai 7,24 juta orang atau sebesar 4,68 persen. Meski secara persentase turun tipis dibanding tahun sebelumnya, jumlah pengangguran justru bertambah sekitar 83 ribu orang.

Ironisnya, lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi masih mendominasi angka pengangguran. Artinya, angkatan kerja muda belum terserap optimal oleh pasar kerja yang tersedia.

Pemerintah memang melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun 2026 mencapai 5,6 persen. Namun pertumbuhan tersebut belum dirasakan secara nyata oleh sebagian besar masyarakat. Daya beli masih lemah akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup lainnya. Di sisi lain, kemampuan sektor usaha dalam menyerap tenaga kerja juga belum memadai.

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Wisnu Setiadi Nugroho, Ph.D., menilai kebijakan ketenagakerjaan pemerintah masih bersifat tambal sulam dan berorientasi jangka pendek. Persoalan mendasar seperti vertical mismatch maupun horizontal mismatch belum ditangani secara serius.

Fenomena sulitnya mencari pekerjaan kini juga dirasakan para lulusan perguruan tinggi. Kesempatan memperoleh pekerjaan yang sesuai kompetensi semakin terbatas. Tidak sedikit anak muda kehilangan optimisme karena merasa sistem meritokrasi berjalan tidak adil.

Menurut Wisnu, banyak posisi strategis justru diisi oleh pihak-pihak yang tidak memiliki rekam jejak kontribusi yang jelas. Akibatnya, generasi muda yang telah menempuh pendidikan tinggi dan berjuang meningkatkan kapasitas diri merasa tersingkirkan oleh sistem yang tidak sehat. Padahal, generasi muda saat ini tidak hanya mencari penghasilan, tetapi juga ruang aktualisasi diri dan kepastian masa depan.

Ketika kerja keras tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh, rasa kecewa dan hilangnya kepercayaan terhadap sistem pun menjadi sesuatu yang sulit dihindari.

Menyelesaikan Akar Persoalan

Maraknya tindak kriminal sesungguhnya tidak hanya terjadi di kota besar. Berbagai kasus juga muncul hingga ke tingkat kecamatan dan pedesaan. Faktor ekonomi kerap menjadi alasan utama pelaku melakukan aksi kejahatan. Desakan kebutuhan hidup membuat sebagian orang memilih jalan pintas, meski harus mempertaruhkan kebebasan, bahkan nyawa orang lain.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sebagian pelaku merupakan residivis yang kembali melakukan kejahatan setelah bebas dari penjara. Sebagian lainnya terjerat narkotika maupun judi online yang semakin memperburuk kondisi sosial ekonomi mereka.

Karena itu, upaya memberantas kriminalitas tidak cukup hanya mengandalkan patroli aparat dan penindakan hukum semata. Negara harus mampu menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya agar masyarakat memiliki kesempatan memperoleh penghasilan yang layak.

Ketersediaan pekerjaan akan mempersempit ruang bagi seseorang untuk memilih jalan kriminal sebagai solusi ekonomi. Di sisi lain, mantan narapidana juga perlu diberi kesempatan kembali berbaur di tengah masyarakat tanpa stigma berlebihan, agar mereka tidak kembali mengulangi perbuatannya.

Meski demikian, tindakan tegas terhadap pelaku kejahatan tetap diperlukan demi memberikan efek jera dan menjaga rasa aman masyarakat. Namun penindakan semata tidak akan pernah menyelesaikan akar persoalan jika ketimpangan ekonomi, pengangguran, dan rendahnya kesejahteraan masyarakat terus dibiarkan.

Masyarakat tentu merindukan rasa aman dan nyaman dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Tetapi menjaga keamanan bukan hanya tugas aparat penegak hukum. Pemerintah juga memiliki tanggung jawab besar memperbaiki kondisi ekonomi nasional agar masyarakat tidak semakin terdesak oleh kerasnya kehidupan.

Jangan sampai suara tembakan aparat terhadap pelaku kejahatan semakin sering terdengar, sementara akar persoalan sosial-ekonomi justru tidak kunjung diselesaikan. Sebab semakin banyak pelaku kriminal yang ditangkap, semakin penuh pula lembaga pemasyarakatan—yang pada akhirnya juga menjadi beban anggaran negara.

Di titik inilah negara dituntut tidak hanya sibuk menindak, tetapi juga serius menyelesaikan sumber persoalan yang melahirkan kriminalitas itu sendiri. (BAKARUDDIN AK) 

Catatan Penulis :

Bakarudin AK 

Penulis dan Pengamat sosial, biografi, ekonomi desa, dan opini terkait isu energi

============

Channel8.co.id adalah platform digital media on line.  Konten ini menjadi tanggung jawab penulis/bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *